Story
Citi: Harga Minyak Ditopang Risiko Geopolitik dan Permintaan Kuat

Summary
Harga minyak mentah Brent kembali naik di atas $108 per barel setelah Arab Saudi menutup pipa minyak utama akibat serangan, menurut analis Citi. Risiko geopolitik dan permintaan yang kuat diperkirakan akan menopang harga dalam jangka pendek.
Harga minyak mentah melonjak kembali di atas $108 per barel setelah Arab Saudi mengonfirmasi penutupan pipa minyak Timur-Barat miliknya menyusul sebuah serangan. Menurut analis Citi, perkembangan ini membalikkan penurunan harga sebelumnya dan menegaskan kembali peran risiko geopolitik dalam pasar energi saat ini.
Pemicu Volatilitas Harga
Sebelumnya, harga minyak sempat melemah, dengan Brent sempat mendekati $104 per barel. Pelemahan ini didorong oleh laporan potensi perundingan antara negara-negara Dewan Kerja Sama Teluk (GCC) dan Iran, serta prospek permintaan yang lebih lemah dari Badan Energi Internasional (IEA).
Namun, tren tersebut berbalik arah dengan cepat. Harga berbalik menguat setelah rencana pertemuan GCC-Iran dibatalkan dan Arab Saudi mengonfirmasi pada hari Kamis bahwa pipa minyaknya telah diserang dan ditutup. Akibatnya, harga Brent menembus $108 per barel, sementara Dated Brent bahkan sempat melonjak di atas $130 per barel.
Dampak pada Pasokan dan Mitigasi
Pipa Timur-Barat yang ditutup memiliki kapasitas 7 juta barel per hari (bph) dan mengalirkan sekitar 5 juta bph sebelum insiden terjadi. Jalur ini sangat vital, memungkinkan ekspor sekitar 4 juta bph minyak mentah Arab Saudi melalui Laut Merah.
Analis Citi mencatat bahwa Arab Saudi memiliki bantalan untuk mengatasi gangguan jangka pendek. Cadangan yang dapat digunakan untuk memenuhi komitmen ekspor antara lain:
Ad- Sekitar 14 juta barel di terminal ekspor pantai barat.
- Tambahan 12 juta barel di fasilitas Sidi Kerir dan Ain Sukhna.
Dengan cadangan ini, Citi meyakini komitmen ekspor dalam waktu dekat dapat dipenuhi melalui penarikan stok, bahkan jika gangguan berlangsung lebih dari beberapa hari.
Prospek Jangka Pendek
Selain gangguan pasokan, faktor permintaan juga mendukung harga. Impor minyak mentah Tiongkok telah meningkat, pembelian oleh kilang tetap kuat, dan musim pemeliharaan kilang yang akan datang diperkirakan tidak akan signifikan.
Citi memperkirakan bahwa perkembangan dalam waktu dekat akan terus menopang harga minyak dan produk turunannya. Prospek ini kemungkinan akan bertahan sebelum potensi terbukanya kembali Selat Hormuz pada kuartal keempat tahun 2026.