Story
Iran Serang Target Militer AS di Teluk, Gencatan Senjata Runtuh

Angkatan bersenjata Iran melancarkan serangan terhadap infrastruktur militer Amerika Serikat di beberapa negara Teluk pada hari Kamis, sebuah eskalasi signifikan yang meruntuhkan gencatan senjata yang telah berlangsung selama tiga minggu. Serangan balasan ini terjadi setelah AS melancarkan serangan di provinsi pesisir selatan dan timur Iran, meningkatkan ketegangan di kawasan yang krusial bagi pasokan energi dunia.
Eskalasi Militer di Teluk
Menurut laporan media pemerintah Iran, militer negara itu menargetkan sejumlah aset strategis AS. Serangan tersebut diklaim mengenai:
- Sistem pertahanan Patriot AS di Kuwait
- Situs peringatan dini di Qatar
- Depot bahan bakar Angkatan Darat AS di Bahrain
Kuwait mengonfirmasi pihaknya mencegat satu rudal jelajah, tiga rudal balistik, dan 10 drone di wilayah udaranya. Sementara itu, Yordania melaporkan telah mencegat delapan rudal yang diluncurkan dari Iran. Garda Revolusi Iran kemudian menyatakan telah menembakkan 10 rudal balistik ke pangkalan militer Azraq di Yordania, yang digunakan oleh pasukan AS.
Serangan ini merupakan balasan atas tindakan AS sebelumnya. Komando Pusat AS pada hari Rabu menyatakan pasukannya telah menyerang sekitar 90 target militer Iran, termasuk sistem pertahanan udara dan lokasi penyimpanan rudal. Presiden AS Donald Trump menyatakan gencatan senjata "telah berakhir" dan memperingatkan respons yang "jauh lebih buruk" jika serangan kembali terjadi.
Dampak pada Pasar Minyak dan Pelayaran
AdKonflik yang kembali memanas ini berpusat di sekitar Selat Hormuz, jalur vital yang menangani sekitar seperlima dari pasokan minyak global sebelum perang. Garda Revolusi Iran menuduh intervensi AS mengganggu pembukaan kembali jalur air tersebut dan menegaskan bahwa selat itu hanya akan dibuka kembali "di bawah pengaturan Iran".
Militer AS membantah klaim Iran dan menyatakan telah memfasilitasi transit lebih dari 800 kapal komersial dan 380 juta barel minyak mentah melalui selat itu sejak awal Mei. Di pasar komoditas, harga minyak sempat melonjak karena kekhawatiran akan gangguan pasokan yang serius, namun kemudian turun kembali pada hari Kamis.
Konteks Diplomatik dan Regional
Eskalasi ini terjadi bersamaan dengan pemakaman Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, yang terbunuh dalam serangan udara pada awal konflik. Di tengah ketegangan militer, upaya diplomatik tetap berjalan. Seorang pejabat AS menyatakan bahwa Washington masih berkomitmen untuk mencari resolusi dan "pembicaraan teknis terus berlanjut".
Negara-negara di kawasan, termasuk Qatar, Turki, dan Oman, menyerukan de-eskalasi dan kembali ke jalur diplomasi untuk menghindari konflik yang lebih luas. Namun, dengan kedua belah pihak yang saling melancarkan serangan, prospek resolusi damai dalam waktu dekat tampak semakin suram.