Story

Sikap Hawkish The Fed dan Lonjakan Minyak Dorong Peluang Kenaikan Suku Bunga September ke 60%

ENTHMSVIIDZHZH-TWJAKOHI
Sep 1, 20262 min read
Sikap Hawkish The Fed dan Lonjakan Minyak Dorong Peluang Kenaikan Suku Bunga September ke 60%
Text size
Background

Imbal hasil obligasi pemerintah AS bertahan di dekat level tertinggi dalam beberapa minggu terakhir pada hari Senin, karena investor merespons sinyal hawkish dari Ketua Federal Reserve Kevin Warsh dan lonjakan tiba-tiba harga minyak mentah. Perkembangan ini secara signifikan meningkatkan ekspektasi pasar terhadap kenaikan suku bunga lanjutan oleh bank sentral AS pada bulan September.

Pernyataan Hawkish Memicu Aksi Jual di Pasar Obligasi

Pendorong utama aksi jual di pasar obligasi adalah pernyataan dari Ketua The Fed Kevin Warsh di simposium Jackson Hole. Warsh menegaskan bahwa para pembuat kebijakan masih "memiliki pekerjaan yang harus dilakukan" jika inflasi tidak menunjukkan tanda-tanda yang meyakinkan untuk kembali ke target 2%.

Sebagai tanggapan, pasar berjangka dana federal kini memperkirakan probabilitas kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin pada pertemuan The Fed 16 September mendatang telah mendekati 60%. Angka ini melonjak tajam dari sekitar 35% sebelum pidato Warsh. Akibatnya, imbal hasil obligasi utama AS bergerak lebih tinggi:

  • Imbal hasil obligasi 10-tahun naik tipis ke 4,720%.
  • Imbal hasil obligasi 30-tahun naik ke 5,222%, level tertinggi dalam hampir seminggu.
  • Imbal hasil obligasi 2-tahun yang sensitif terhadap kebijakan sedikit turun ke 4,323% setelah mencatat kenaikan harian terbesar sejak Juni 2026 pada hari Jumat lalu.

Sentimen ini juga meluas ke pasar Eropa, di mana imbal hasil obligasi Schatz 2-tahun Jerman naik ke 2,898%, dan imbal hasil obligasi 10-tahun Jerman mencapai 3,2903%, level tertinggi sejak 2011.

Ketegangan Geopolitik Dongkrak Harga Minyak

Sample IUX Markets – In-articleAd

Tekanan pada pasar obligasi diperparah oleh eskalasi ketegangan di Teluk Persia. Serangan udara AS terhadap instalasi roket Iran di Pulau Larak dan serangan balasan Iran memicu kekhawatiran gangguan pasokan di Selat Hormuz, jalur pelayaran minyak yang vital.

Konflik ini menyebabkan harga minyak mentah Brent melonjak hampir 3% hingga menembus $90,50 per barel. Lonjakan harga komoditas ini memperbarui kekhawatiran akan inflasi dorongan biaya (*cost-push inflation*), yang mempersulit tugas bank sentral global untuk mengendalikan harga.

Fokus Beralih ke Data Ekonomi AS

Dengan imbal hasil yang tetap tinggi, investor kini mengalihkan perhatian mereka ke serangkaian data ekonomi penting dari AS untuk mencari petunjuk lebih lanjut mengenai arah kebijakan moneter. Laporan lowongan pekerjaan JOLTS, data ketenagakerjaan swasta ADP, dan terutama laporan Non-Farm Payrolls (NFP) pada hari Jumat akan menjadi sorotan utama.

Pasar juga akan memantau dengan cermat pidato dari pejabat The Fed lainnya, yaitu Michael Barr dan Christopher Waller, minggu ini untuk mengukur apakah pandangan hawkish Warsh mendapat dukungan luas di antara para anggota komite yang memiliki hak suara.

Back to latest news

LATEST