Story

Saham Eropa Menuju Pekan Terburuk Sejak April Akibat Kenaikan Suku Bunga ECB dan Lonjakan Minyak

ENTHMSVIIDZHZH-TWJAKOHI
Sep 11, 20262 min read
Saham Eropa Menuju Pekan Terburuk Sejak April Akibat Kenaikan Suku Bunga ECB dan Lonjakan Minyak
Text size
Background

Bursa saham Eropa merosot mendekati level terendah dalam dua bulan pada hari Jumat, dan berada di jalur untuk mencatatkan penurunan mingguan paling tajam sejak April. Sentimen investor terpukul oleh kombinasi kenaikan suku bunga yang hawkish dari Bank Sentral Eropa (ECB) dan lonjakan dramatis harga minyak mentah, yang memperkuat kekhawatiran akan tekanan stagflasi yang berkepanjangan di seluruh benua.

Indeks acuan pan-Eropa, Stoxx Europe 600, diperdagangkan di sekitar level terendahnya dalam delapan minggu. Indeks ini diperkirakan akan mengalami penurunan mingguan lebih dari 2%, menandai kinerja mingguan terburuknya dalam lima bulan terakhir. Di bursa utama lainnya, DAX Jerman dan CAC 40 Prancis masing-masing naik tipis 0,3% dan 0,5%, sementara FTSE 100 London menguat 0,1% dalam perdagangan harian.

Kenaikan Suku Bunga ECB Guncang Pasar

Pelemahan pasar terjadi saat investor mencerna dampak dari pertemuan kebijakan ECB pada hari Kamis. Dewan Gubernur yang dipimpin oleh Christine Lagarde menaikkan suku bunga fasilitas simpanan acuan sebesar 25 basis poin menjadi 2,50%, level tertinggi sejak April 2025. Keputusan ini mematahkan ekspektasi pasar sebelumnya yang memperkirakan bank sentral akan menahan suku bunga.

Langkah kebijakan tersebut menggarisbawahi meningkatnya kekhawatiran di Frankfurt bahwa lonjakan biaya bahan baku akan merembes ke harga inti. Inflasi utama Zona Euro (CPI) tercatat mencapai 3,3% pada bulan Agustus, didorong oleh kenaikan komponen energi sebesar 14,3%. Akibatnya, pasar uang kini memproyeksikan probabilitas lebih dari 90% untuk kenaikan suku bunga ketiga sebelum akhir tahun.

Lonjakan Harga Minyak dan Tensi Geopolitik

Sample IUX Markets – In-articleAd

Tekanan terhadap pasar saham diperparah oleh lonjakan harga energi. Harga minyak mentah Brent melonjak ke level tertinggi empat bulan di $109,97 per barel, mengunci kenaikan mingguan hampir 13%. Kenaikan ini didorong oleh meningkatnya ketegangan geopolitik yang mengganggu pasokan fisik.

Lalu lintas kapal tanker di Teluk Persia dilaporkan sangat terbatas menyusul konfrontasi militer antara pasukan AS dan aset angkatan laut Iran. Situasi ini diperburuk oleh penguasaan pelabuhan Mocha di Yaman oleh milisi Houthi, yang secara langsung mengancam rute ekspor minyak Arab Saudi di Laut Merah. Pukulan ganda dari kenaikan imbal hasil bebas risiko dan biaya input perusahaan yang tinggi memicu aksi jual di seluruh bursa regional, terutama pada saham-saham yang sensitif terhadap suku bunga seperti sektor pertumbuhan, manufaktur industri, dan barang konsumsi non-primer.

Fokus Beralih ke Data Inflasi AS

Di luar Eropa, para pelaku pasar global kini menantikan rilis data Indeks Harga Konsumen (IHK) Amerika Serikat pada hari Jumat. Menyusul data pekerjaan non-pertanian AS yang lebih kuat dari perkiraan pekan lalu, angka inflasi AS yang panas akan memperkuat ekspektasi kenaikan suku bunga oleh Federal Reserve pada pertemuan FOMC 15-16 September mendatang.

Dengan ECB dan The Fed yang sama-sama mengambil sikap restriktif di tengah gangguan pasokan akibat konflik, para investor bersiap menghadapi volatilitas yang berkelanjutan menjelang musim gugur.

Back to latest news

LATEST