Story
Saham ADR Bradesco Anjlok Lebih dari 30% Setelah Terpilihnya Kembali Lula Secara Mengejutkan di Brasil

American Depositary Receipts (ADR) Banco Bradesco SA anjlok 31,3% dalam perdagangan pra-pasar menjadi $2,794 setelah terpilihnya kembali Presiden Luiz Inácio Lula da Silva secara mengejutkan dalam pemilihan presiden putaran kedua Brasil pada 25 Oktober. Perkembangan politik yang tak terduga ini memicu aksi jual besar-besaran aset Brasil yang terdaftar di AS karena investor dengan cepat menilai kembali prospek ekonomi negara tersebut.
Guncangan Politik Mengubah Ekspektasi Pasar
Penurunan pasar didorong oleh pembalikan tajam posisi investor. Menurut laporan dari Investing.com, pelaku pasar sebagian besar mengantisipasi kemenangan senator sayap kanan Flávio Bolsonaro, dengan bertaruh pada platform konsolidasi fiskal dan kebijakan yang kondusif untuk menurunkan suku bunga.
Kemenangan Lula mendorong pelepasan cepat perdagangan ini, karena investor sekarang bergulat dengan kekhawatiran tentang disiplin fiskal di bawah pemerintahan barunya. Peristiwa tersebut menyebabkan apa yang digambarkan oleh sumber sebagai salah satu peristiwa penyesuaian harga sesi tunggal paling keras untuk ADR Brasil dalam sejarah baru-baru ini.
Aksi Jual Besar-besaran Menghantam Sektor Keuangan dan Mata Uang
Penurunan tersebut tidak hanya terjadi pada Bradesco, tetapi juga melanda seluruh sektor keuangan Brasil. Investor khawatir bahwa biaya pinjaman pemerintah yang tinggi dan real Brasil yang lebih lemah dapat meningkatkan biaya pendanaan bagi bank dan menekan margin bunga bersih mereka.
AdPenurunan tajam real Brasil di pasar mata uang semalam juga secara otomatis mengurangi nilai dolar AS dari ADR. Aksi jual besar-besaran tersebut khusus terjadi di Brasil, karena indeks utama AS sedikit lebih tinggi, yang menggarisbawahi peran risiko politik spesifik negara.
Kekhawatiran Kredit yang Sudah Ada Memperkuat Penurunan
Saham Bradesco juga berada di bawah tekanan dari kekhawatiran yang sudah ada sebelumnya tentang kualitas kreditnya. Laporan pendapatan kuartal ketiga tahun 2026 terbaru dari bank tersebut menunjukkan rasio kredit macet (NPL) yang telah melewati 90 hari meningkat menjadi 4,6% dari 4,1%.
Lebih lanjut, manajemen mengakui bahwa peningkatan signifikan dalam tren NPL mungkin tidak akan terjadi hingga pertengahan hingga akhir tahun 2027, menurut laporan tersebut. Ketidakpastian yang masih ada mengenai kualitas aset ini membuat bank tersebut sangat rentan terhadap pergeseran negatif dalam sentimen makroekonomi setelah pemilihan umum.