Story

Senator AS Desak Transparansi Penuh atas Perjanjian Nuklir dengan Arab Saudi

ENTHMSVIIDZHZH-TWJAKOHI
Sep 16, 20262 min read
Senator AS Desak Transparansi Penuh atas Perjanjian Nuklir dengan Arab Saudi

Summary

Sekelompok senator AS dari Partai Demokrat dan Republik meminta pemerintahan Trump untuk mendeklasifikasi semua informasi terkait usulan perjanjian nuklir sipil dengan Arab Saudi, dengan alasan perlunya pengawasan kongres dan publik.

Text size
Background

Sekelompok senator Amerika Serikat dari kedua partai besar mendesak pemerintahan Presiden Donald Trump untuk mendeklasifikasi dan merilis seluruh informasi mengenai usulan perjanjian kerja sama energi nuklir sipil dengan Arab Saudi. Permintaan ini, yang tertuang dalam sebuah surat, secara spesifik menyoroti dua "surat sampingan" rahasia yang dinegosiasikan dengan Riyadh.

Tuntutan Pengawasan Kongres

Dalam surat yang ditujukan kepada Menteri Luar Negeri Marco Rubio dan Menteri Energi Christopher Wright, para senator berpendapat bahwa transparansi penuh sangat penting. Mereka menekankan bahwa baik Senat maupun publik memerlukan akses ke teks lengkap perjanjian untuk memahami komitmen yang dibuat oleh kedua negara.

Surat tersebut, yang dilihat oleh Reuters, ditandatangani oleh 15 senator Demokrat, satu senator independen, dan dua senator Republik, Rand Paul dan John Kennedy. Mereka mencatat bahwa puluhan perjanjian nuklir serupa, yang dikenal sebagai "perjanjian 123", telah dicapai dengan negara lain tanpa kerahasiaan seperti ini.

Implikasi Komersial dan Nonproliferasi

Perjanjian nuklir yang diusulkan ini memiliki nilai komersial yang signifikan, diperkirakan mencapai puluhan miliar dolar selama 30 tahun. Kesepakatan ini mencakup pembangunan reaktor AP1000, sebuah proyek yang akan menguntungkan Westinghouse, perusahaan yang dimiliki bersama oleh Cameco (NYSE: CCJ) yang berbasis di Kanada dan Brookfield Asset Management (NYSE: BAM).

Sample IUX Markets – In-articleAd

Namun, perjanjian ini menuai kritik dari sejumlah anggota parlemen dan advokat nonproliferasi karena tidak secara eksplisit melarang Arab Saudi melakukan pengayaan uranium atau pemrosesan ulang limbah nuklir. Langkah-langkah ini, yang dikenal sebagai "standar emas", merupakan jalur potensial untuk memproduksi senjata nuklir dan telah disetujui oleh Uni Emirat Arab dalam perjanjiannya dengan Washington pada tahun 2009.

Konteks Politik

Pemerintahan Trump mengirimkan usulan perjanjian ini ke Kongres pada bulan Agustus, membuka jendela peninjauan selama 90 hari bagi para legislator. Sejak saat itu, anggota parlemen terus menekan untuk deklasifikasi dokumen-dokumen terkait.

Secara terpisah, kesepakatan ini juga menimbulkan pertanyaan tentang kaitannya dengan normalisasi hubungan antara Arab Saudi dan Israel. Meskipun Presiden Trump menyatakan perjanjian nuklir hanya akan berlaku jika Riyadh menormalisasi hubungan, para staf kongres menyebutkan tidak ada klausul mengenai hal tersebut dalam pakta yang diajukan.

Back to latest news

LATEST