Story

Indeks Baltik Dry Melonjak ke Puncak Dua Pekan, Didorong Tarif Kapal Capesize

ENTHMSVIIDZHZH-TWJAKOHI
Aug 6, 20261 min read
Indeks Baltik Dry Melonjak ke Puncak Dua Pekan, Didorong Tarif Kapal Capesize

Summary

Indeks utama angkutan komoditas curah kering global, Baltic Dry Index, melanjutkan kenaikannya untuk hari keempat berturut-turut, mencapai level tertinggi dalam dua pekan terakhir. Penguatan ini didorong oleh kenaikan tarif sewa di semua segmen kapal, terutama lonjakan signifikan pada kapal jenis Capesize.

Text size
Background

Indeks utama angkutan laut komoditas curah kering dari Baltic Exchange melanjutkan tren positifnya pada hari Selasa, membukukan kenaikan untuk sesi keempat berturut-turut. Indeks komposit ini melonjak 93 poin atau 3,3% menjadi 2.936, level tertinggi sejak 14 Juli, didorong oleh penguatan tarif sewa di seluruh segmen kapal.

Kenaikan Tarif di Seluruh Segmen

Kenaikan terbesar datang dari segmen kapal terbesar, Capesize, yang biasanya mengangkut kargo 150.000 ton seperti bijih besi dan batu bara. Indeks Capesize meroket 214 poin atau 4,7% menjadi 4.778, level tertinggi sejak 5 Juni. Sejalan dengan itu, pendapatan harian rata-rata untuk kapal jenis ini meningkat sebesar $1.939 menjadi $39.831.

Segmen Panamax juga menunjukkan kinerja yang kuat. Indeks untuk kapal yang biasa mengangkut 60.000 hingga 70.000 ton batu bara atau biji-bijian ini naik 52 poin atau 2,4% menjadi 2.187, level tertinggi sejak 20 Juli. Pendapatan harian rata-rata untuk kapal Panamax bertambah $474 menjadi $19.686.

Sample IUX Markets – In-articleAd

Konteks Pasar

Baltic Dry Index (BDI) dipandang oleh para analis sebagai indikator utama aktivitas ekonomi global karena mengukur permintaan untuk pengiriman bahan baku industri. Kenaikan indeks yang berkelanjutan dapat mengindikasikan peningkatan permintaan komoditas dan aktivitas perdagangan internasional.

Penguatan indeks ini terjadi di tengah tekanan pada harga bijih besi berjangka akibat kekhawatiran kelebihan pasokan. Namun, pelemahan harga komoditas tersebut dilaporkan terbatas seiring munculnya sinyal stabilisasi produksi di pabrik-pabrik baja China, yang merupakan konsumen utama bijih besi dunia.

Back to latest news

LATEST