Story
Raymond James Proyeksikan Merger Warner Bros. Discovery dan Paramount Selesai 22 Juli di Tengah Gugatan Hukum

Firma jasa keuangan Raymond James menyatakan ekspektasinya bahwa merger antara Warner Bros. Discovery (WBD) dan Paramount Global (PSKY) akan tetap berlanjut dan ditutup pada 22 Juli. Proyeksi ini muncul meskipun ada tantangan hukum signifikan berupa gugatan yang diajukan oleh koalisi 12 jaksa agung negara bagian AS.
Gugatan Antimonopoli dari Koalisi Negara Bagian
Gugatan hukum ini dipimpin oleh Jaksa Agung California, Rob Bonta, yang mengumumkan langkah tersebut pada hari Senin. Koalisi tersebut mencakup jaksa agung dari Arizona, Colorado, Connecticut, Massachusetts, Minnesota, Nevada, New Jersey, New Mexico, New York, Oregon, dan Washington.
Fokus utama dari gugatan ini adalah kekhawatiran antimonopoli di tiga pasar spesifik:
- Distribusi film teatrikal
- Distribusi film teatrikal dengan pendapatan kotor tertinggi
- Lisensi saluran televisi kabel dasar
Menurut gugatan tersebut, entitas gabungan dari kedua perusahaan media raksasa itu diperkirakan akan menguasai pangsa pasar sebesar 27% hingga 30% di masing-masing pasar tersebut. Koalisi telah meminta perusahaan untuk menunda penutupan kesepakatan hingga proses peradilan selesai, namun belum mengajukan perintah penahanan sementara.
Proyeksi Analis dan Respons Perusahaan
AdTerlepas dari gugatan tersebut, Raymond James berpendapat bahwa kedua perusahaan kemungkinan akan melanjutkan penutupan transaksi sesuai jadwal. Analis membandingkan strategi ini dengan transaksi Tegna/Nexstar, di mana kesepakatan ditutup terlebih dahulu dan solusi atau perbaikan hukum yang diperlukan akan ditangani kemudian.
Menanggapi gugatan tersebut, Paramount Global merilis siaran pers yang menyatakan bahwa merger ini justru akan meningkatkan persaingan di industri media. Perusahaan juga menekankan bahwa transaksi tersebut telah mendapatkan persetujuan dari 24 yurisdiksi, termasuk Amerika Serikat di tingkat federal.
Konteks dan Implikasi Pasar
Secara signifikan, gugatan dari para jaksa agung tidak mencakup pasar *streaming*, yang merupakan area fokus utama bagi kedua perusahaan. Bagi investor, gugatan ini menambah lapisan ketidakpastian pada salah satu merger terbesar di sektor media. Namun, pandangan analis menunjukkan adanya kemungkinan bahwa perusahaan akan mengambil risiko hukum untuk menyelesaikan kesepakatan.
Dalam konferensi pers, Jaksa Agung Bonta menyatakan bahwa ia lebih suka menyelesaikan masalah di "ruang rapat daripada di ruang sidang", tetapi fakta dan hukum yang ada mendorong negara-negara bagian untuk mengajukan gugatan. Ia juga mengklarifikasi bahwa laporan tentang potensi divestasi CNN tidak terkait dengan yurisdiksinya.