Story

Menkeu AS Sebut Tarif 50% untuk Kanada sebagai Tindakan 'Resiprositas'

ENTHMSVIIDZHZH-TWJAKOHI
Jul 21, 20261 min read
Menkeu AS Sebut Tarif 50% untuk Kanada sebagai Tindakan 'Resiprositas'

Summary

Menteri Keuangan AS Scott Bessent membela tarif 50% yang baru dikenakan terhadap barang-barang Kanada senilai hampir $20 miliar, menyebutnya sebagai tindakan balasan atau 'resiprositas' atas kebijakan perdagangan Ottawa.

Text size
Background

Menteri Keuangan Amerika Serikat Scott Bessent pada hari Selasa menyatakan bahwa pengenaan tarif 50% terhadap berbagai produk impor dari Kanada merupakan tindakan "resiprositas" atau balasan atas kebijakan perdagangan yang diterapkan oleh Ottawa. Pernyataan ini menegaskan sikap tegas Washington dalam sengketa dagang yang sedang berlangsung dengan negara tetangganya.

Pembenaran dari Departemen Keuangan AS

Dalam sebuah wawancara dengan Fox Business Network, Bessent menuduh Kanada telah bersikap "sangat diskriminatif" terhadap produk susu AS. Ia juga menyoroti penyingkiran produk alkohol dan minuman asal AS dari rak-rak toko di Kanada sebagai dasar dari tindakan balasan Washington.

"Ini benar-benar hanya resiprositas dalam hal apa yang telah mereka lakukan terhadap perusahaan-perusahaan hebat AS kami," ujar Bessent dalam program "Mornings with Maria", seperti dikutip oleh Reuters. Langkah ini diambil untuk menyetarakan kondisi persaingan dagang antara kedua negara.

Konteks Eskalasi Perdagangan

Langkah tarif ini merupakan tindak lanjut dari pengumuman Presiden Donald Trump pada hari Senin. Administrasi Trump memberlakukan tarif baru terhadap barang-barang Kanada dengan nilai total hampir $20 miliar.

Sample IUX Markets – In-articleAd

Tarif tersebut merupakan balasan atas tindakan Kanada sebelumnya yang juga mengenakan tarif terhadap produk AS, termasuk di sektor otomotif, baja, aluminium, dan minuman keras. Selain itu, tarif susu Kanada yang tinggi telah lama menjadi titik perselisihan utama bagi Washington.

Implikasi bagi Investor dan Pasar

Eskalasi perang tarif antara dua mitra dagang utama ini berpotensi meningkatkan ketidakpastian di pasar. Investor akan mencermati dampak tarif ini terhadap perusahaan-perusahaan dengan rantai pasok lintas batas yang signifikan, terutama di sektor otomotif, komoditas, dan barang konsumsi.

Perkembangan ini dapat memicu volatilitas pada saham-saham terkait dan nilai tukar mata uang, seiring pasar mengevaluasi potensi gangguan terhadap arus perdagangan dan profitabilitas perusahaan di kedua negara.

Back to latest news

LATEST