Story
Lalu Lintas Tanker di Selat Hormuz Melambat di Tengah Eskalasi AS-Iran

Summary
Lalu lintas kapal tanker minyak di Selat Hormuz dilaporkan melambat setelah serangkaian serangan militer antara Amerika Serikat dan Iran, meningkatkan kekhawatiran baru atas pasokan minyak global dan mendorong harga naik untuk pekan ini.
Lalu lintas tanker harian di Selat Hormuz, jalur perairan krusial bagi pasokan energi global, menunjukkan perlambatan pada hari Jumat. Kondisi ini terjadi setelah Amerika Serikat dan Iran terlibat dalam aksi militer balasan, yang kembali memicu ketidakpastian mengenai keamanan pelayaran di wilayah tersebut.
Eskalasi Militer Terbaru
Ketegangan memuncak setelah Washington menuduh pasukan Iran menyerang tiga kapal tanker di area tersebut. Sebagai respons, AS melancarkan serangan terhadap beberapa situs militer di pesisir selatan dan provinsi timur Iran. Menurut laporan media pemerintah Iran, serangan AS ini menewaskan 14 orang dan melukai 78 lainnya.
Iran kemudian membalas dengan menyerang beberapa fasilitas militer AS di negara-negara Teluk. Teheran mengklaim telah menembakkan rudal ke sistem Patriot AS di Kuwait, sebuah situs peringatan dini di Qatar, depot bahan bakar Angkatan Darat AS di Bahrain, dan pangkalan militer Azraq di Yordania yang digunakan oleh pasukan AS.
Dampak Terhadap Pasar Minyak
Eskalasi ini secara langsung berdampak pada pasar komoditas, memicu kembali kekhawatiran investor terhadap pemulihan pasokan minyak global. Meskipun harga minyak sedikit melemah pada hari Jumat, harga berada di jalur untuk mencatat kenaikan mingguan sebesar 4-5%.
AdMenurut data dari International Energy Agency (IEA), pasokan minyak global sempat naik 4,1 juta barel per hari (bpd) pada bulan Juni. Namun, angka tersebut masih 9,4 juta bpd di bawah level pra-konflik. IEA juga memperingatkan potensi ketatnya pasokan solar dan bensin di pasar.
Konteks Pelayaran dan Negosiasi
Sebelum serangan pekan ini, lalu lintas tanker di selat tersebut telah pulih ke level tertinggi sejak konflik dimulai, dengan rata-rata 40 kapal transit setiap hari. Angka ini masih jauh di bawah rata-rata normal sebelum konflik yang berkisar antara 125 hingga 140 kapal per hari.
Insiden ini menguji gencatan senjata sementara yang menjadi landasan negosiasi antara kedua negara. Meskipun Presiden AS Donald Trump sempat menyatakan gencatan senjata "berakhir", seorang pejabat AS mengonfirmasi bahwa Washington tetap berkomitmen pada resolusi diplomatik dan "pembicaraan teknis terus berlanjut". Laporan media juga menyebutkan bahwa Qatar sedang dalam pembicaraan dengan Washington dan Teheran untuk mencoba meredakan krisis.