Story
Laba Shell Melonjak Jadi US$9,8 Miliar di Kuartal II, Didorong Harga Energi dan Volatilitas Pasar

Summary
Shell melaporkan laba bersih yang disesuaikan sebesar US$9,84 miliar untuk kuartal kedua, lebih dari dua kali lipat dari tahun sebelumnya, berkat harga minyak dan gas yang lebih tinggi serta kinerja perdagangan yang kuat di tengah gejolak pasar.
Shell melaporkan laba bersih yang disesuaikan lebih dari dua kali lipat menjadi US$9,84 miliar pada kuartal kedua 2026, melampaui ekspektasi analis. Kinerja kuat ini didorong oleh kenaikan harga energi dan peningkatan volatilitas pasar di tengah konflik Timur Tengah, yang menguntungkan divisi perdagangan raksasa energi tersebut.
Angka tersebut jauh melampaui laba sebesar US$4,26 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya dan melampaui konsensus analis sebesar US$8,92 miliar. Ini merupakan laba kuartalan tertinggi yang dicatat perusahaan sejak 2022, ketika invasi Rusia ke Ukraina mengguncang pasar energi global.
Pendorong Utama Kinerja
Menurut laporan yang dirilis pada hari Kamis, pendorong utama lonjakan laba ini adalah harga minyak dan gas yang lebih tinggi, margin bahan kimia yang membaik, serta kinerja yang kuat dari unit perdagangan LNG dan minyak. Kinerja ini berhasil mengimbangi volume penjualan yang lebih rendah akibat gangguan operasional di fasilitas Pearl GTL di Qatar.
Shell, bersama dengan perusahaan energi besar lainnya, diuntungkan dari disrupsi pasar dan volatilitas yang disebabkan oleh konflik AS-Israel dengan Iran. Kondisi ini menciptakan lebih banyak peluang bagi bisnis perdagangan besar yang mereka operasikan.
Kinerja Segmen dan Keuangan
Kinerja kuat terlihat di berbagai segmen bisnis utama Shell:
Ad- Gas Terintegrasi (Integrated Gas): Laba segmen ini, yang mencakup unit perdagangan LNG terbesar di dunia, mencapai US$2,7 miliar, naik 55% dari tahun lalu dan melampaui ekspektasi.
- Bahan Kimia dan Produk (Chemicals and Products): Segmen ini juga berkinerja luar biasa dengan laba US$2,3 miliar, melonjak dari hanya US$118 juta setahun sebelumnya.
Perusahaan juga mengumumkan akan mempertahankan laju program pembelian kembali sahamnya sebesar US$3 miliar selama tiga bulan ke depan. Dari sisi neraca, utang bersih Shell turun menjadi US$41,8 miliar dari US$52,6 miliar pada kuartal sebelumnya, dengan rasio utang terhadap ekuitas (gearing) membaik menjadi 18,7%.
Konteks dan Dampak Operasional
Kinerja keuangan yang solid ini dicapai meskipun ada tantangan operasional. Produksi di pabrik Pearl gas-to-liquids (GTL) Shell di Qatar terhenti pada bulan Maret setelah sebuah serangan merusak salah satu dari dua jalur produksinya, dengan perbaikan diperkirakan memakan waktu sekitar satu tahun.
Timur Tengah menyumbang sekitar 20% dari total produksi minyak dan gas Shell. Gangguan tersebut menyoroti risiko geopolitik yang dihadapi perusahaan, namun volatilitas pasar yang diakibatkannya justru memberikan peluang signifikan bagi divisi perdagangannya untuk menghasilkan keuntungan yang lebih tinggi.