Story
Arab Saudi Bentuk Aliansi Pertahanan untuk Redam Risiko Perang Regional

Summary
Di tengah meningkatnya serangan dari Iran dan sekutunya, Arab Saudi membangun aliansi pertahanan regional, termasuk pakta dengan Turki dan Pakistan, untuk mencegah eskalasi konflik yang lebih luas.
Arab Saudi secara aktif membangun aliansi pertahanan regional sebagai strategi untuk menghalau serangan dari Iran dan proksinya, di tengah kekhawatiran terseret ke dalam konflik yang lebih luas. Langkah ini diambil untuk melindungi visi ekonomi ambisius kerajaan tanpa terjerat dalam perang yang tidak diinginkan, menurut analisis dan sumber diplomatik yang dikutip oleh Reuters.
Eskalasi Serangan dan Respons Riyadh
Dalam beberapa minggu terakhir, Arab Saudi menghadapi serangkaian serangan signifikan terhadap infrastruktur minyak kritis dan rute pelayarannya di Selat Hormuz dan Laut Merah. Serangan ini dilaporkan berasal dari Yaman, di mana kelompok Houthi yang didukung Iran mengakhiri gencatan senjata empat tahun, serta dari milisi di Irak.
Menanggapi eskalasi ini, Riyadh telah mengambil langkah-langkah balasan yang terukur. Dua minggu lalu, Arab Saudi bersama Amerika Serikat melancarkan serangan udara gabungan terhadap milisi Irak yang dituduh terlibat dalam serangan ke wilayah kerajaan. Ini menandai pembalasan pertama yang diumumkan secara resmi oleh Riyadh selama konflik berlangsung, sebuah langkah yang sebelumnya dihindari agar tidak terlihat sebagai pihak yang turut berperang bersama AS dan Israel.
Strategi Aliansi Pertahanan Baru
Untuk memperkuat posisi pertahanannya, Arab Saudi menginisiasi dua aliansi utama. Pertama, pembentukan koalisi pertahanan maritim di Laut Merah yang bertujuan untuk mengamankan jalur pelayaran. Kedua, penandatanganan perjanjian pertahanan gabungan dengan Turki dan Pakistan yang diumumkan di Mekkah pekan lalu.
AdMenurut Yasmine Farouk dari Crisis Group, pakta dan koalisi ini merupakan cara Arab Saudi untuk memberi sinyal kepada Iran bahwa Riyadh bersedia meningkatkan level respons, dimulai dari jalur diplomasi sebelum beralih ke tindakan militer. Para analis menilai inisiatif ini sebagai "balon percobaan" untuk menguji kebijakan de-eskalasi dan deterensi secara bertahap.
Implikasi dan Tantangan ke Depan
Meski aliansi ini memiliki bobot simbolis yang kuat, efektivitasnya dalam menghentikan serangan masih menjadi pertanyaan. Serangan Houthi terhadap instalasi minyak Saudi dilaporkan masih terjadi bahkan setelah pakta pertahanan diumumkan. Serangan-serangan ini menghidupkan kembali kekhawatiran akan terulangnya krisis 2019, ketika serangan serupa sempat memangkas separuh produksi minyak Arab Saudi.
Koalisi maritim Laut Merah telah mendapatkan dukungan dari 14 negara regional, namun negara-negara Eropa masih ragu untuk bergabung karena khawatir akan potensi keterlibatan dalam perang di Yaman. Di sisi lain, Menteri Luar Negeri Turki Hakan Fidan menyatakan pakta pertahanan tersebut secara teknis mirip dengan Pasal 5 NATO, yang memerlukan konsultasi antar anggota sebelum memberikan dukungan. Dilema utama bagi Riyadh tetap sama: bagaimana menyeimbangkan deterensi yang kuat tanpa memicu konflik regional yang lebih besar.