Story
Pound Melemah Terhadap Dolar Jelang Rapat The Fed dan Bank of England

Pound sterling melemah terhadap dolar AS pada hari Senin, karena permintaan dolar yang meningkat menjelang rapat kebijakan moneter penting dari Federal Reserve AS dan Bank of England (BoE) pekan ini mengimbangi sentimen pasar yang lebih positif.
Menurut data yang dirilis, pasangan mata uang GBP/USD turun 0,06% menjadi $1,3316. Analis dari ING mencatat bahwa pelemahan sterling tidak didorong oleh fundamental ekonomi Inggris, melainkan oleh penguatan dolar AS secara umum menjelang pengumuman kebijakan The Fed.
Fokus Pasar Tertuju pada Bank Sentral
Investor saat ini menantikan keputusan kebijakan dari dua bank sentral utama. The Federal Reserve AS diperkirakan akan mengumumkan keputusannya pada hari Rabu, dengan ekspektasi luas bahwa suku bunga akan dipertahankan di level saat ini. Namun, pasar tetap waspada terhadap potensi kejutan karena keengganan Ketua The Fed, Kevin Warsh, untuk memberikan panduan ke depan (*forward guidance*), yang menurut analis ING dapat "mendorong pembelian USD untuk berjaga-jaga menjelang pengumuman."
Sementara itu, Bank of England akan mengumumkan keputusannya pada hari Kamis. Pasar memperkirakan BoE akan mempertahankan suku bunga acuannya di level 3,75%. Pandangan ini diperkuat oleh data inflasi Inggris bulan Juni yang melambat ke level terendah dalam 15 bulan sebesar 2,6%, di bawah perkiraan BoE.
Risiko dan Prospek Sterling
AdAnalis ING menyoroti bahwa risiko utama bagi sterling dalam jangka pendek adalah potensi penyesuaian harga ke arah yang lebih dovish (*dovish repricing*). Saat ini, pasar uang memperkirakan adanya pengetatan kebijakan sebesar 38 basis poin dari BoE hingga akhir tahun.
Di sisi lain, euro menunjukkan penguatan terhadap pound. Pasangan EUR/GBP telah pulih sekitar 1% dari level terendahnya pada 15 Juli. Menurut ING, model valuasi menunjukkan bahwa pasangan mata uang ini masih tergolong murah dan berpotensi untuk terus menguat.
Konteks Pasar yang Lebih Luas
Permintaan dolar AS yang bersifat antisipatif ini terjadi meskipun sentimen risiko secara umum membaik. Meredanya ketegangan di Timur Tengah dan penurunan tajam harga minyak mentah seharusnya menjadi faktor yang menekan dolar. Harga minyak Brent dilaporkan telah mundur ke sekitar $92 per barel.
Namun, para analis memperingatkan bahwa situasi ini bisa cepat berubah. ING menyatakan bahwa hanya dibutuhkan sedikit pemicu untuk mendorong harga minyak kembali ke atas $100 per barel, dan bahkan bisa mencapai $120 jika ketegangan geopolitik kembali memanas. Skenario semacam itu kemungkinan akan memperkuat dolar lebih lanjut.