Story
Poundsterling Menguat Tipis Menjelang Rilis Data Inflasi AS yang Krusial

Pound sterling diperdagangkan sedikit lebih tinggi terhadap dolar AS pada hari Rabu, dengan pasar berada dalam mode menunggu menjelang rilis data inflasi konsumen (CPI) AS. Data ini dipandang sebagai faktor krusial yang dapat menentukan apakah Federal Reserve akan kembali menaikkan suku bunga pada bulan September.
Fokus Investor Tertuju pada Data CPI AS
Pada pukul 08:18 GMT, pasangan mata uang GBP/USD tercatat naik 0,04% ke level 1,3511. Sebaliknya, EUR/USD melemah 0,04% menjadi 1,1538, seiring dolar yang bertahan stabil menanti data penting yang akan dirilis pada sesi perdagangan nanti.
Pergerakan pasar valuta asing sangat bergantung pada hasil CPI bulan Juli. Konsensus pasar memperkirakan inflasi utama naik 0,1% secara bulanan (*month-on-month*) dan inflasi inti sebesar 0,2%. Jika sesuai ekspektasi, angka ini akan membawa tingkat inflasi tahunan masing-masing menjadi 3,4% dan 2,5%.
Analisis dan Implikasi Pasar
Menurut Chris Turner, kepala pasar global di ING, pasar tampaknya mengantisipasi data inflasi yang lebih lunak. "Kita mungkin perlu melihat angka 0,1% secara bulanan pada inflasi inti... Angka yang lunak akan mengurangi ekspektasi pasar terhadap kenaikan suku bunga The Fed pada September dari probabilitas 50%," ujarnya.
AdTurner menambahkan bahwa data yang lebih rendah dari perkiraan akan menghasilkan pelemahan dolar, terutama terhadap mata uang pro-siklikal. Indeks Dolar (DXY), yang mengukur kekuatan greenback terhadap sekeranjang mata uang utama, saat ini terkunci dalam rentang 99,40-100. Penembusan ke bawah level tersebut akan sangat bergantung pada data CPI yang lebih rendah dari perkiraan.
Konteks Sterling dan Euro
Kinerja pound sterling saat ini lebih mencerminkan sensitivitasnya terhadap pergerakan dolar daripada perkembangan domestik di Inggris. Tanpa adanya data ekonomi atau sinyal kebijakan signifikan dari Inggris, pound, yang oleh pasar dianggap sebagai mata uang pro-siklikal, akan menjadi salah satu penerima manfaat utama jika dolar melemah secara luas.
Sementara itu, euro diperdagangkan lesu meskipun data aktivitas ekonomi zona euro secara umum mengejutkan ke arah positif. Analis ING mencatat bahwa tekanan datang dari harga gas alam Eropa yang tetap tinggi, yang berkelanjutan di atas €60 per megawatt-jam.