Story
Reli Dolar Terhenti, Pound Sterling Menguat Jelang Data Inflasi AS

Summary
Pound sterling mencatat kenaikan tipis terhadap dolar AS karena investor menahan diri menjelang rilis data inflasi konsumen AS yang krusial, yang dapat memengaruhi arah kebijakan The Fed.
Pound sterling menguat terhadap dolar AS pada perdagangan hari Selasa, sementara euro juga mencatat kenaikan, seiring pasar yang berhenti sejenak untuk mengevaluasi laju apresiasi dolar menjelang rilis data inflasi utama Amerika Serikat.
Pergerakan Pasar Valas
Berdasarkan data pasar, pasangan mata uang GBP/USD naik 0,20% menjadi 1,3375 pada pukul 10:56 GMT, setelah diperdagangkan dalam rentang antara 1,3342 dan 1,3381. Sementara itu, pasangan EUR/USD juga menguat 0,13% ke level 1,1395.
Meskipun terjadi kenaikan sesaat, tekanan dari sisi dolar tetap menjadi kekuatan dominan yang memengaruhi pasar. Permintaan terhadap *greenback* masih ditopang oleh ketegangan geopolitik di Teluk, yang telah mendorong harga minyak mentah Brent naik.
Fokus pada Inflasi AS dan Kebijakan The Fed
Jeda dalam reli dolar terjadi saat investor menantikan data Indeks Harga Konsumen (IHK) AS untuk bulan Juni. Data tersebut diperkirakan akan menunjukkan perlambatan inflasi utama secara bulanan karena harga energi yang lebih rendah. Namun, para analis mengatakan bahwa angka inflasi inti sebesar 0,2% secara bulanan tidak akan banyak mengubah ekspektasi pasar terhadap sikap *hawkish* Federal Reserve.
Ad"Risiko jangka pendek tetap berada di sisi atas untuk dolar," kata Francesco Pesole, ahli strategi valas di ING, dalam sebuah catatan. Pasar saat ini memperkirakan probabilitas sekitar 50% untuk kenaikan suku bunga pada pertemuan Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) bulan Juli, dengan total pengetatan 43 basis poin yang telah diperhitungkan hingga akhir tahun.
Faktor Pendorong Sterling Terbatas
Kenaikan moderat sterling lebih didorong oleh dinamika dolar secara luas daripada katalis spesifik dari Inggris. Tidak ada rilis data ekonomi Inggris atau komentar dari pembuat kebijakan yang secara signifikan memengaruhi pergerakan pound pada sesi tersebut.
Faktor eksternal, seperti blokade AS di Selat Hormuz yang mendorong minyak mentah Brent ke $84 per barel, terus memberikan dukungan fundamental bagi dolar. Pesole dari ING mengingatkan bahwa lonjakan baru dalam harga energi merupakan risiko utama yang dapat mendorong dolar lebih tinggi dan menekan mata uang lainnya seperti euro.