Story
Harga Minyak Turun di Tengah Kekhawatiran Permintaan dan Ketegangan Geopolitik

Summary
Harga minyak mentah melemah karena revisi turun prospek permintaan global oleh OPEC dan IEA, serta kenaikan stok AS yang tak terduga, membayangi ketidakpastian pasokan yang sedang berlangsung di Selat Hormuz.
Harga minyak mentah turun signifikan pada hari Kamis, tertekan oleh kekhawatiran atas melemahnya prospek permintaan global yang diperparah oleh ketidakpastian pasokan akibat ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Minyak mentah berjangka Brent, yang menjadi patokan global, turun 2,5% menjadi $86,73 per barel, sementara minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) AS merosot 2,8% ke level $80,57 per barel pada pukul 09:10 Waktu Bagian Timur AS (21:10 WIB).
Prospek Permintaan Global Memburuk
Sentimen pasar dibebani oleh laporan bulanan dari dua badan energi utama yang dirilis pada hari Rabu. Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) dan Badan Energi Internasional (IEA) sama-sama memangkas perkiraan permintaan minyak global untuk tahun 2026, menandakan pandangan yang lebih pesimistis terhadap konsumsi energi.
- OPEC merevisi turun proyeksi pertumbuhan permintaan minyak global 2026 menjadi 580.000 barel per hari (bph), yang merupakan penurunan proyeksi keempat kalinya tahun ini.
- IEA bahkan memproyeksikan penurunan permintaan sebesar 1,6 juta bph tahun ini, sebuah pembalikan tajam dari perkiraan sebelumnya yang memprediksi pertumbuhan 1 juta bph.
Kedua organisasi tersebut menyebut perlambatan pertumbuhan ekonomi akibat konflik Iran, pasokan bahan bakar yang terbatas, dan kenaikan harga sebagai faktor utama yang menekan prospek permintaan. Tekanan jual semakin diperkuat oleh data yang menunjukkan stok minyak mentah AS secara tak terduga melonjak 17,4 juta barel pada pekan lalu, mengindikasikan permintaan yang lebih lemah di konsumen minyak terbesar dunia.
Ketidakpastian Pasokan di Selat Hormuz
AdDi sisi pasokan, pasar terus memantau dengan cermat situasi di Selat Hormuz, jalur air strategis yang menyumbang sekitar 20% dari konsumsi minyak global sebelum konflik AS-Iran meletus. Sinyal yang saling bertentangan dari Washington dan Teheran mengenai kontrol atas selat tersebut telah menciptakan volatilitas harga sepanjang pekan ini.
Data pengiriman menunjukkan bahwa aktivitas di wilayah tersebut telah melambat secara signifikan sejak akhir Juli. Negosiasi untuk membuka kembali jalur tersebut dilaporkan tidak menunjukkan kemajuan berarti. Kekhawatiran gangguan pasokan dari Teluk Persia juga diperburuk oleh serangan terhadap kapal-kapal di Laut Merah oleh kelompok Houthi yang didukung Iran, yang mengganggu rute pengiriman minyak penting lainnya.
Implikasi bagi Investor
Pasar minyak saat ini berada dalam tarik-menarik antara sinyal permintaan yang *bearish* dan risiko pasokan yang *bullish*. Untuk saat ini, data fundamental seperti lonjakan stok AS dan revisi turun permintaan dari OPEC dan IEA lebih mendominasi sentimen. Namun, setiap eskalasi konflik di Selat Hormuz berpotensi memicu lonjakan harga yang cepat. Sementara itu, Amerika Serikat terus memanfaatkan Cadangan Minyak Strategis (SPR) untuk meredam guncangan pasokan akibat konflik tersebut.