Story
Pasar Minyak Bertaruh pada Kesepakatan Iran di Tengah Meningkatnya Risiko Geopolitik

Summary
Harga minyak mentah sempat melemah karena prospek kesepakatan AS-Iran, namun optimisme pasar memudar seiring meningkatnya kerapuhan sistem energi global dan serangan baru di Arab Saudi.
Optimisme pasar terhadap potensi kesepakatan nuklir sementara antara AS dan Iran mendorong harga minyak mentah turun menuju $80 per barel pada pertengahan pekan. Namun, sentimen tersebut dengan cepat memudar menjelang akhir pekan setelah berita serangan Houthi yang didukung Iran terhadap Arab Saudi kembali menyoroti risiko geopolitik yang masih tinggi.
Kerapuhan Pasar Energi
Prospek kesepakatan baru, yang dilaporkan akan memberikan Iran kendali atas kapal yang memasuki Teluk melalui Selat Hormuz, sempat meredakan kekhawatiran pasokan. Namun, para analis menilai optimisme pasar saat ini bahkan lebih sulit dipahami dibandingkan pada bulan Juni, mengingat kondisi sistem energi global yang jauh lebih rapuh.
Menurut laporan Reuters, pasar saat ini menghadapi beberapa tantangan, antara lain:
- Stok persediaan minyak yang semakin menipis.
- Berkurangnya pasokan yang terperangkap dan siap membanjiri pasar jika ada kesepakatan.
- Konflik yang telah meluas di luar Selat Hormuz.
Kenaikan harga minyak yang hanya moderat setelah serangan Houthi menunjukkan bahwa pasar mungkin masih meremehkan risiko eskalasi yang lebih luas.
Lonjakan Laba Kilang Minyak
AdDi tengah ketegangan pasokan, para raksasa minyak global justru melaporkan lonjakan laba dari segmen pengilangan (refining) pada kuartal kedua. Kelangkaan kapasitas kilang yang ekstrem akibat gangguan di Selat Hormuz dan serangan terhadap fasilitas energi di Rusia dan Teluk telah mendorong margin keuntungan ke level yang sangat tinggi.
Exxon melaporkan laba hilir (downstream) sebesar $5,5 miliar, hasil terkuatnya sejak 2022, sementara laba hilir Chevron naik menjadi $4,9 miliar. Indikator margin kilang BP, ukuran profitabilitas kilang global, juga naik menjadi $30 per barel pada kuartal kedua, naik tajam dari $12 setahun sebelumnya. Meskipun demikian, para analis menilai "era keemasan" ini kemungkinan tidak akan bertahan lama karena fundamental jangka panjang di sektor ini tetap tidak mendukung.
Fokus Beralih ke Data Ekonomi dan Valas
Di luar pasar komoditas, investor juga mencermati intervensi gabungan AS-Jepang di pasar valuta asing. Langkah tersebut berhasil menenangkan pasar untuk sementara, dengan yen saat ini diperdagangkan di sekitar level 158 per dolar, menguat dari level terendah 40 tahun di dekat 164 per dolar. Namun, masalah fundamental Jepang terkait kebijakan moneter dan fiskal yang longgar masih menjadi perhatian.
Sementara itu, pasar menantikan rilis data *nonfarm payrolls* AS bulan Juli. Rilis data ADP pada hari Rabu menunjukkan perlambatan penambahan tenaga kerja swasta menjadi 44.000, turun dari 95.000 pada bulan Juni. Menurut jajak pendapat Reuters, para ekonom memperkirakan ekonomi AS menambah 80.000 pekerjaan pada bulan Juli, dengan tingkat pengangguran tetap di 4,2%. Data ini akan menjadi krusial bagi arak kebijakan The Federal Reserve selanjutnya.