Story
Saham Nike di Persimpangan: Prospek Pemulihan atau Tren Penurunan Berlanjut?

Summary
Saham Nike anjlok 45% dari level tertingginya, memicu perdebatan sengit antara investor yang melihat peluang beli dan mereka yang mengkhawatirkan tekanan lebih lanjut dari pelemahan di Tiongkok dan persaingan ketat.
Saham Nike (NKE) diperdagangkan di level yang jauh di bawah puncaknya, menciptakan dilema tajam bagi investor: apakah ini peluang pemulihan (*turnaround*) yang menarik atau sebuah "pisau jatuh" yang masih akan terus menurun? Dengan harga saham yang anjlok sekitar 45% dari level tertinggi 52 minggu, argumen dari kubu optimistis (*bullish*) dan pesimistis (*bearish*) sama-sama kuat dan didukung oleh data yang kontradiktif.
Sinyal Kinerja yang Bercampur
Saat ini, saham Nike diperdagangkan di sekitar $44,05, setelah sempat menyentuh level terendah 52 minggu di $40,00. Secara tahunan (*year-to-date*), saham ini telah terkoreksi 31,1%. Perusahaan melaporkan laba per saham (EPS) yang melampaui ekspektasi pada Kuartal IV Tahun Fiskal 2026, namun angka ini didorong oleh pemulihan tarif satu kali sebesar $986 juta. Tanpa pos tersebut, EPS yang mendasari hanya mencapai $0,20, jauh dari angka yang dilaporkan sebesar $0,72. Fakta ini menyoroti ketegangan utama yang dihadapi perusahaan.
Argumen Optimis: Kekuatan Merek dan Potensi Margin
Para pendukung saham Nike menunjuk pada fundamental jangka panjang yang solid. Mereka meyakini bahwa keunggulan kompetitif merek (*brand moat*) Nike tidak tergantikan, didukung oleh rekam jejak 24 tahun berturut-turut menaikkan dividen.
- Pertumbuhan Kategori Inti: Kategori lari, latihan, dan performa menunjukkan ekspansi di semua wilayah, menandakan permintaan yang sehat untuk produk inti.
- Potensi Pemulihan Margin: Analis di Bernstein, yang mempertahankan peringkat *Outperform* dengan target harga $72, berpendapat bahwa margin akan pulih lebih dulu sebelum pendapatan. Hal ini seiring dengan berkurangnya diskon besar-besaran dan penurunan biaya operasional.
- Valuasi Menarik: Pada valuasi sekitar 13,5x EV/EBITDA berdasarkan estimasi 2027, saham Nike dinilai belum pernah semurah ini dalam lebih dari satu dekade.
- Katalis Mendatang: Acara Investor Day pada 16-17 November mendatang diharapkan dapat memberikan panduan jangka menengah dan memamerkan produk baru yang dapat mengubah narasi pasar.
AdArgumen Pesimis: Masalah di Tiongkok dan Persaingan Ketat
Di sisi lain, kubu pesimistis melihat tantangan signifikan yang dapat menekan harga saham lebih lanjut. Masalah di pasar Tiongkok menjadi perhatian utama, di mana pendapatan turun 12% YoY menjadi $1,3 miliar.
- Tekanan di Tiongkok: Manajemen secara eksplisit menyatakan "tidak mengharapkan lingkungan membaik secara berarti selama enam bulan ke depan" karena merek lokal seperti Anta dan Li-Ning terus merebut pangsa pasar.
- Pelemahan Kategori Gaya Hidup: Segmen *lifestyle*, yang menyumbang 60% dari penjualan, terus menyusut. Produk-produk klasik seperti Air Force 1 dan Dunks menjadi penekan kinerja, sementara produk baru baru akan tiba pada musim semi 2027.
- Panduan Pendapatan Negatif: Manajemen memproyeksikan penurunan pendapatan satu digit rendah hingga menengah setidaknya hingga Kuartal II Tahun Fiskal 2027.
- Pesaing Menguat: Adidas dilaporkan merebut pangsa pasar dari Nike, dengan pangsa pasar sepatunya naik menjadi 19,2% pada Juni 2026 dari 16,0% setahun sebelumnya.
- Penjualan Digital Anjlok: Penurunan penjualan digital sebesar 26% YoY menunjukkan adanya pergeseran preferensi konsumen yang mengkhawatirkan.
Prospek ke Depan: Waktu Adalah Kunci
Kesimpulan dari perdebatan ini mengarah pada skenario "cerita yang tepat, waktu yang salah". Secara fundamental, Nike kemungkinan besar akan keluar dari periode sulit ini dengan kekuatan merek yang tetap utuh. Namun, prospek jangka pendek masih suram dengan panduan pendapatan yang negatif. Investor Day pada bulan November menjadi katalis penting berikutnya yang ditunggu pasar. Hingga saat itu, saham Nike kemungkinan akan bergerak dalam rentang terbatas antara $40 hingga $48, dengan data penjualan dari Tiongkok dan periode kembali ke sekolah menjadi faktor penggerak utama.