Story
CEO JPMorgan Jamie Dimon Sebut Aturan Modal Bank 'Tidak Adil'

Summary
CEO JPMorgan Jamie Dimon melontarkan kritik keras terhadap regulator perbankan AS, menuduh proposal aturan modal baru ditetapkan secara artifisial tinggi dan tidak adil bagi bank-bank besar.
CEO JPMorgan Chase (NYSE:JPM) Jamie Dimon mengkritik tajam regulator perbankan Amerika Serikat terkait proposal persyaratan modal yang baru. Dalam sebuah panggilan pendapatan kuartalan pada hari Selasa, Dimon menyebut aturan tersebut "tidak adil" dan dirancang dengan cara yang dibuat-buat untuk menaikkan angka kewajiban modal.
Kritik Keras Terhadap Regulator
Dimon menuduh bahwa perubahan yang diusulkan dalam cara bank menghitung dana yang diperlukan untuk menyerap potensi kerugian secara tidak proporsional merugikan JPMorgan dan bank-bank besar terdiversifikasi lainnya. Sebaliknya, menurutnya, aturan ini justru menguntungkan perusahaan-perusahaan trading di Wall Street.
"Mereka seharusnya tidak menghitung angka dengan cara yang salah untuk membuat angkanya lebih tinggi," kata Dimon. "Angka seharusnya adalah angka. Jika mereka pikir kami harus memiliki lebih banyak modal, mereka seharusnya meminta kami... Saya tidak senang angka-angka ini dibuat secara keliru."
Komentar ini menyoroti meningkatnya ketegangan antara JPMorgan, bank terbesar di AS, dengan para regulator. Pernyataan ini dilontarkan meskipun proposal terbaru dianggap lebih lunak bagi industri dibandingkan versi aslinya pada tahun 2023.
Dampak Aturan Baru
AdJPMorgan telah menyatakan bahwa di bawah draf aturan yang baru, pihaknya akan menghadapi kenaikan modal sekitar 4%. Sebaliknya, para pesaingnya justru akan melihat penurunan modal rata-rata sebesar 4,8%.
Perbedaan dampak ini menjadi inti dari keberatan Dimon, yang menganggap kerangka kerja tersebut menargetkan model bisnis banknya secara tidak adil. Persyaratan modal yang lebih tinggi dapat membatasi kemampuan bank untuk memberikan pinjaman dan mengembalikan modal kepada pemegang saham.
Konteks Kinerja Keuangan
Kritik ini disampaikan bersamaan dengan laporan kinerja keuangan JPMorgan yang solid. Bank tersebut melaporkan rekor laba kuartal kedua, didorong oleh pendapatan perbankan investasi yang mencapai level tertinggi sejak 2021 berkat maraknya penawaran umum perdana (IPO) dan aktivitas M&A.
Selain itu, divisi trading bank juga mendapatkan keuntungan dari kondisi pasar yang fluktuatif. Kinerja yang kuat ini memberikan latar belakang bagi argumen Dimon bahwa banknya dikelola dengan baik dan tidak memerlukan beban modal tambahan yang dianggapnya bersifat punitif.