Story
Avansi Houthi di Bab el-Mandeb Mengekspos Kerentanan Saudi, Perkuat Iran

Summary
Perebutan wilayah strategis di dekat Selat Bab el-Mandeb oleh Houthi menjadi kemunduran besar bagi Arab Saudi, menyoroti kegagalan intelijen dan memperkuat pengaruh Iran atas jalur pelayaran minyak global.
Pasukan Houthi berhasil merebut wilayah strategis yang menghadap ke Selat Bab el-Mandeb, memberikan pukulan telak bagi Arab Saudi dan secara signifikan memperkuat posisi Iran di kawasan tersebut. Perkembangan ini menimbulkan risiko baru terhadap jalur pelayaran minyak global yang vital dan mengungkap keterbatasan aliansi keamanan regional.
Pukulan Strategis bagi Riyadh
Serangan kilat Houthi di sepanjang pantai Laut Merah berhasil merebut sejumlah pulau di mulut selat, sebuah langkah yang menurut para pejabat Barat dan regional menunjukkan berbagai kegagalan. Sumber-sumber tersebut menyoroti perpecahan mendalam di antara faksi-faksi Yaman yang anti-Houthi, dukungan udara Saudi yang terbatas, dan kesalahan perhitungan atas kekuatan Houthi.
Menurut seorang diplomat yang dikutip oleh Reuters, Houthi secara diam-diam telah mengumpulkan sekitar 100.000 pejuang, jumlah yang jauh melampaui pasukan lawan. Neil Quilliam, seorang peneliti di lembaga think tank Chatham House, London, menggambarkan serangan itu sebagai "kegagalan intelijen yang mencolok". Selain itu, runtuhnya pasukan yang didukung Saudi membuat Houthi berhasil menyita sejumlah besar persenjataan canggih pasokan AS dan Saudi, yang semakin memperkuat kemampuan militer mereka.
Implikasi Geopolitik dan Pasar
Penguasaan wilayah di sekitar Bab el-Mandeb, jalur arteri vital bagi pasokan minyak global, memberikan pengaruh signifikan bagi Houthi dan pendukungnya, Iran. Dikombinasikan dengan kendali Iran atas Selat Hormuz, Teheran dan sekutunya kini memiliki pengaruh atas dua titik strategis maritim paling krusial di dunia. Kontrol ini dapat digunakan sebagai alat tekanan yang mengancam stabilitas pengiriman energi global dan berpotensi memicu volatilitas harga minyak.
AdMenghadapi kemunduran ini, Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman (MbS) dilaporkan telah mengunjungi Kairo untuk mencari dukungan. Menurut sumber regional, Riyadh menginginkan Mesir memainkan peran dalam operasi Laut Merah. Namun, terbatasnya dukungan internasional terlihat dari keengganan Amerika Serikat dan negara-negara Eropa untuk menawarkan dukungan militer langsung.
Keraguan Aliansi dan Pilihan Sulit
Keengganan Washington untuk campur tangan secara militer telah mempertegas keraguan atas keandalan jaminan keamanan AS, sebuah sinyal yang menurut para analis telah melemahkan posisi tawar Riyadh. Analis politik Yaman, Farea Al-Muslimi, menggambarkan penolakan Washington untuk membantu sebagai "penolakan terbesar terhadap tatanan Saudi-Amerika" dalam beberapa dekade.
Arab Saudi kini dihadapkan pada pilihan yang sulit. Seorang pejabat Teluk menyatakan bahwa membiarkan Houthi mengkonsolidasikan kemenangan mereka berisiko mengubah keuntungan taktis menjadi pengaruh strategis jangka panjang. Sebaliknya, respons militer yang lebih besar dapat memicu serangan balasan yang lebih dalam ke wilayah kerajaan. Situasi ini menempatkan agenda transformasi ekonomi MbS di bawah tekanan yang semakin besar di tengah meningkatnya ketidakstabilan regional.