Story
Goldman Sachs Naikkan Proyeksi Harga Minyak, Perkirakan Gangguan Pelayaran Timur Tengah Berlanjut

Goldman Sachs telah menaikkan proyeksi harga minyak mentah untuk akhir tahun 2026 dan sepanjang tahun 2027 sebesar $5 per barel. Langkah ini didasarkan pada asumsi baru bahwa gangguan pelayaran di Timur Tengah, yang dipicu oleh konflik regional, akan berlanjut hingga tahun depan.
Revisi Proyeksi Harga
Berdasarkan laporan yang dirilis, bank investasi tersebut kini memproyeksikan harga minyak mentah dengan target baru sebagai berikut:
- Minyak Brent (Desember 2026): Diperkirakan mencapai $85 per barel.
- Minyak WTI (Desember 2026): Diperkirakan mencapai $80 per barel.
- Minyak Brent (rata-rata 2027): Diproyeksikan pada level $80 per barel.
- Minyak WTI (rata-rata 2027): Diproyeksikan pada level $75 per barel.
Analisis dan Faktor Pembatas
Menurut Goldman Sachs, risiko harga tetap cenderung ke arah kenaikan (upside), terutama dalam jangka pendek. Namun, kenaikan proyeksi ini dinilai terbatas karena beberapa faktor penyeimbang.
AdPara analis mencatat bahwa sejak konflik meletus, stok minyak komersial darat di negara-negara OECD tidak mengalami penurunan yang signifikan. Hal ini mengindikasikan bahwa defisit pasokan yang terjadi lebih kecil dari yang diperkirakan sebelumnya.
Konteks Geopolitik dan Prospek Pasokan
Gangguan pelayaran di Timur Tengah meningkat setelah Iran memperketat pembatasan di Selat Hormuz, jalur vital untuk pasokan minyak dan gas global. Ketegangan ini dipicu oleh serangan AS dan Israel terhadap Iran yang dimulai pada 28 Februari, menurut sumber tersebut.
Meski demikian, Goldman Sachs memperkirakan pasokan dari Timur Tengah akan mampu beradaptasi. Para analis memprediksi perluasan skala "armada gelap"—kapal tanker yang beroperasi secara terselubung untuk mengalirkan minyak—dan mulai beroperasinya beberapa jaringan pipa baru pada akhir 2027 akan membantu menstabilkan pasokan global.