Story
Harga Emas Stabil Setelah Reli Akibat Data Inflasi, Komentar Hawkish The Fed Tahan Kenaikan

Summary
Harga emas bergerak stabil setelah reli yang dipicu oleh data inflasi AS yang lebih rendah dari perkiraan, namun komentar hawkish dari pejabat The Fed membatasi optimisme pasar terhadap pelonggaran kebijakan moneter.
Harga emas bergerak sedikit berubah pada hari Rabu setelah mengalami reli di sesi sebelumnya. Pelemahan data inflasi AS mendorong logam mulia ini, tetapi komentar bernada *hawkish* dari pejabat Federal Reserve menahan laju kenaikan lebih lanjut.
Menurut data Investing.com pada pukul 21:27 ET (01:27 GMT), harga emas di pasar spot (XAU/USD) naik tipis 0,07% menjadi $4.055,63 per ons. Sementara itu, kontrak emas berjangka turun 0,19% ke level $4.062,05.
Data Inflasi Mendorong Reli Emas
Emas berhasil mempertahankan sebagian besar keuntungannya setelah data menunjukkan harga konsumen AS secara tak terduga turun pada bulan Juni. Penurunan bulanan ini merupakan yang pertama kalinya dalam enam tahun, yang mendorong investor untuk secara signifikan mengurangi ekspektasi kenaikan suku bunga dalam waktu dekat.
Data inflasi yang lebih rendah memicu reli pada obligasi pemerintah AS dan menekan nilai dolar, sehingga meningkatkan sentimen terhadap logam mulia yang tidak memberikan imbal hasil. Menurut CME FedWatch, probabilitas pasar untuk kenaikan suku bunga 25 basis poin pada pertemuan The Fed 28-29 Juli turun tajam menjadi 16,6%, dari 41,0% pada hari sebelumnya.
Komentar Hawkish The Fed Menjadi Penyeimbang
AdAntusiasme pasar mereda setelah Ketua The Fed Kevin Warsh menegaskan kembali bahwa prioritas bank sentral adalah mengembalikan inflasi ke target 2%. Pernyataan ini mengindikasikan bahwa para pembuat kebijakan tetap siap untuk memperketat kebijakan lebih lanjut jika tekanan harga kembali meningkat.
Komentar tersebut berfungsi sebagai penyeimbang terhadap data inflasi yang positif, membatasi potensi kenaikan harga emas dan membuat investor tetap waspada terhadap arah kebijakan The Fed ke depan.
Risiko Geopolitik dan Prospek ke Depan
Di luar data ekonomi, investor tetap berhati-hati terhadap potensi dampak ketegangan geopolitik yang kembali memanas di Timur Tengah terhadap harga energi. Harga minyak mentah tetap tinggi, dengan Brent diperdagangkan di atas $85 per barel dan WTI mendekati $79.
Kenaikan biaya energi yang berkelanjutan dapat memicu kembali tekanan inflasi, yang menjadi faktor risiko bagi prospek kebijakan moneter. Investor kini akan memantau data harga produsen AS yang akan dirilis akhir pekan ini untuk mendapatkan petunjuk lebih lanjut mengenai tren inflasi.