Story
CEO EDP: Negara-Negara Uni Eropa Gagal Terapkan Reformasi Izin Energi Terbarukan

Summary
CEO EDP Miguel Stilwell d’Andrade menyatakan bahwa negara-negara anggota Uni Eropa gagal mengimplementasikan reformasi perizinan yang disederhanakan, sehingga menghambat investasi dan pembangunan proyek energi bersih di seluruh kawasan.
CEO perusahaan energi Portugal EDP, Miguel Stilwell d’Andrade, menyatakan bahwa negara-negara anggota Uni Eropa (UE) tidak mengimplementasikan reformasi perizinan yang diperlukan untuk mempercepat pembangunan proyek energi terbarukan. Kegagalan ini terjadi meskipun Komisi Eropa telah mendorong upaya untuk meningkatkan investasi di sektor energi bersih.
## Hambatan Implementasi di Tingkat Nasional
Menurut d’Andrade, langkah-langkah yang diadopsi UE setelah invasi Rusia ke Ukraina pada tahun 2022 untuk menyederhanakan perizinan proyek terbarukan belum sepenuhnya diimplementasikan oleh banyak negara, termasuk Portugal, Polandia, dan Italia. Ia menegaskan bahwa masalahnya bukan berada di tingkat Eropa, melainkan di tingkat negara anggota.
"Masalahnya bukan Eropa. Ini lebih bergantung pada negara-negara anggota serta pemerintah daerah dan lokal. Ini benar-benar tentang eksekusi di lapangan," katanya kepada wartawan. Proses perizinan lingkungan yang panjang, yang memakan waktu bertahun-tahun, disebut menunda keputusan investasi di seluruh Eropa.
## Dampak pada Jadwal Investasi dan Proyek
Keterlambatan birokrasi ini menciptakan kesenjangan yang signifikan antara durasi perizinan dan konstruksi. EDP pada bulan Januari menyatakan bahwa proyek energi terbarukan di Eropa dapat memakan waktu 4 hingga 6 tahun untuk mendapatkan izin, padahal proses pembangunannya sendiri biasanya hanya memakan waktu 12 hingga 18 bulan.
AdKondisi ini menjadi latar belakang rencana investasi besar EDP. Perusahaan, melalui anak perusahaannya EDP Renovaveis yang merupakan produsen energi angin terbesar keempat di dunia, berencana menginvestasikan €12 miliar ($13,74 miliar) antara tahun 2026 dan 2028. Investasi ini sebagian besar ditujukan untuk memperluas kapasitas energi terbarukan dengan fokus utama di Amerika Serikat.
## Konteks Regulasi dan Respons Pemerintah
Sebagai tanggapan atas lambatnya implementasi, Komisi Eropa telah memulai proses pelanggaran pada Agustus lalu terhadap 26 negara anggota karena gagal mengubah arahan UE menjadi undang-undang nasional secara penuh. Hal ini menunjukkan bahwa masalah tersebut bersifat sistemik di seluruh blok.
Menanggapi kritik tersebut, juru bicara kementerian lingkungan Portugal mengatakan negara itu sedang mengadopsi langkah-langkah untuk "merampingkan dan memfasilitasi perizinan semaksimal mungkin." Sementara itu, kementerian energi Italia dan juru bicara pemerintah Polandia tidak menanggapi permintaan komentar.