Story
Harga Minyak Brent Tembus $100 per Barel di Tengah Eskalasi Konflik AS-Iran

Summary
Harga minyak mentah Brent melampaui $100 per barel untuk pertama kalinya sejak Juli, dipicu oleh eskalasi konflik militer antara Amerika Serikat dan Iran yang meningkatkan kekhawatiran pasar akan gangguan pasokan energi yang lebih luas dari Timur Tengah.
Harga minyak internasional melanjutkan kenaikannya pada hari Rabu, dengan patokan global Brent menembus level psikologis $100 per barel. Lonjakan ini terjadi setelah ketegangan di Timur Tengah meningkat tajam, menyusul aksi militer antara Amerika Serikat dan Iran yang memicu kekhawatiran investor terhadap keamanan pasokan energi dari kawasan tersebut.
Menurut laporan Investing.com, pada pukul 06:04 Waktu Bagian Timur AS (ET), kontrak berjangka minyak mentah Brent naik 2,6% menjadi $100,45 per barel. Sementara itu, patokan AS, West Texas Intermediate (WTI), menguat 2,3% ke level $95,19 per barel.
Pemicu Eskalasi Militer
Kenaikan harga dipicu oleh serangkaian insiden militer yang terjadi secara cepat di kawasan Teluk. Perkembangan terbaru meliputi:
- Militer AS mengumumkan pada hari Selasa bahwa pihaknya telah menghancurkan lima kapal tanker minyak Iran. Tindakan ini merupakan balasan atas serangan rudal yang diklaim dilancarkan Iran terhadap kapal Angkatan Laut AS.
- Iran merespons dengan menembakkan rudal ke sasaran AS di Yordania dan memperingatkan negara-negara Teluk seperti Kuwait dan Bahrain untuk tidak memberikan dukungan kepada pasukan AS.
- Garda Revolusi Iran mengklaim telah melancarkan serangan rudal "hebat" ke pangkalan AS di dekat Azraq, Yordania, dan menyerang total 10 kapal di kawasan tersebut, termasuk 2 kapal AS dan 8 kapal tanker.
- Insiden ini terjadi setelah kelompok Houthi yang didukung Iran melancarkan serangan ke fasilitas energi dan ekonomi di Arab Saudi selatan pada hari Selasa, yang menyebabkan lebih dari 70 orang terluka.
AdImplikasi Pasar dan Proyeksi Analis
Eskalasi ini secara langsung meningkatkan premi risiko di pasar minyak, di mana para pedagang mengantisipasi potensi gangguan yang lebih signifikan terhadap arus minyak mentah global. Analis dari ING Group dalam sebuah catatan menyatakan bahwa perkembangan ini membuat prospek perundingan menjadi semakin jauh dan pasar kemungkinan akan terus memperhitungkan premi risiko yang cukup besar.
Namun, para analis ING juga menambahkan bahwa meskipun ketegangan meningkat, perkiraan aliran minyak melalui Selat Hormuz justru sedikit meningkat menjadi sekitar 10 juta barel per hari. Angka ini setara dengan sekitar 50% dari level sebelum konflik.
Ke depan, bank investasi Goldman Sachs memperingatkan bahwa harga minyak mentah berpotensi melonjak hingga $120 per barel jika serangan terhadap kapal-kapal di Timur Tengah semakin intensif dan menyebabkan gangguan pengiriman yang berkepanjangan.