Story
BMW Berjuang Mengejar Ketinggalan di Pasar EV China yang Kompetitif

Summary
Penjualan BMW di China anjlok saat produsen mobil Jerman ini menghadapi tantangan berat dari para pesaing lokal yang bergerak cepat. Platform EV 'Neue Klasse' yang sangat dinantikan mungkin datang terlambat untuk membalikkan keadaan di pasar yang memprioritaskan teknologi di atas warisan teknik.
BMW menghadapi tantangan berat untuk menghidupkan kembali bisnisnya di China, dengan penjualan yang anjlok dan platform kendaraan listrik (EV) andalannya yang akan datang berisiko terlambat memasuki pasar yang bergerak sangat cepat. Produsen mobil Jerman tersebut melaporkan penjualan di China anjlok 30% pada kuartal kedua, menyusul peringatan laba yang sebagian disebabkan oleh kinerja di pasar otomotif terbesar di dunia itu.
Tekanan di Pasar Otomotif Terbesar Dunia
Penurunan kinerja BMW di China, di mana penjualan juga turun pada tahun 2024 dan 2025, mencerminkan perjuangan yang lebih luas bagi merek-merek premium Jerman. Menurut laporan Reuters, penjualan Mercedes-Benz dan Audi dari Volkswagen juga masing-masing turun 28% dan 19% pada paruh pertama tahun ini.
Kondisi ini menyoroti pergeseran fundamental di pasar China, di mana EV kini menyumbang 46% dari total penjualan kendaraan. Namun, menurut data Global Mobility, hanya sekitar 5% dari penjualan BMW di negara itu yang merupakan kendaraan listrik murni, menunjukkan adanya kesenjangan signifikan dengan tren pasar.
'Neue Klasse' Terlambat Masuk Perlombaan?
BMW menggantungkan harapannya pada platform EV "Neue Klasse" yang telah lama ditunggu-tunggu, dengan model pertama untuk China, SUV iX3, dijadwalkan meluncur pada bulan November. Namun, para analis khawatir platform ini mungkin telah kehilangan momentumnya. "Jika ini diluncurkan dua tahun lalu, ini bisa menjadi pengubah permainan," kata Yale Zhang, direktur pelaksana di firma riset Automotive Foresight yang berbasis di Shanghai.
Keterlambatan ini menjadi krusial karena para pesaing China kini mampu mengembangkan mobil listrik canggih hanya dalam waktu 18 bulan—sekitar dua kali lebih cepat dari produsen mobil tradisional. Peluncuran iX3 di China sendiri tertunda setelah BMW beralih dari teknologi internal ke mitra lokal Momenta untuk menyediakan teknologi *assisted-driving*, sebuah fitur yang dianggap penting oleh banyak konsumen China.
AdPergeseran Preferensi Konsumen
Tantangan bagi BMW dan merek Jerman lainnya adalah warisan teknik mesin pembakaran internal mereka tidak lagi menjadi daya tarik utama bagi banyak pembeli di China. "Konsumen China tidak lagi percaya pada hal itu," kata Wang Xianbin, wakil presiden Gasgoo Research Institute. Sebaliknya, mereka lebih menyukai merek lokal seperti Nio, Zeekr, dan Xiaomi yang menawarkan fitur-fitur EV cerdas yang disesuaikan dengan selera lokal.
Pergeseran ini juga tercermin pada harga. Menurut konsultan LandRoads, harga transaksi rata-rata BMW di China pada tahun 2025 adalah 341.000 yuan ($50.200), di bawah merek lokal premium seperti Nio dan Aito. Para analis berpendapat bahwa pemotongan harga saja tidak lagi cukup untuk bersaing dengan rival lokal yang "dipersenjatai hingga ke gigi dengan fitur-fitur canggih."
Perspektif Investor dan Strategi Perusahaan
Beberapa investor menyuarakan keprihatinan bahwa tantangan di China telah diremehkan. Hendrik Schmidt dari DWS, salah satu dari 10 investor teratas BMW, mengatakan bahwa "dari perspektif kami, dinamika di sini telah diremehkan secara signifikan."
Seorang juru bicara BMW menyatakan bahwa manajemen senior perusahaan memiliki pengalaman luas di China dan perusahaan mengejar strategi produk spesifik negara yang berfokus pada layanan digital terintegrasi dan kenyamanan kursi belakang. Namun, para kritikus berpendapat bahwa pengembangan produk BMW masih sangat terpusat di Munich. "Secara keseluruhan, jelas bahwa BMW selangkah di belakang," kata Wang dari Gasgoo.