Story
AstraZeneca Menang Banding, Amankan Obat Kanker Tagrisso dari Gugatan Paten Pfizer

Pengadilan banding Amerika Serikat pada hari Kamis menguatkan putusan yang memenangkan AstraZeneca dalam sengketa paten melawan anak perusahaan Pfizer, Wyeth, terkait obat kanker paru-paru Tagrisso. Keputusan ini secara efektif melindungi salah satu sumber pendapatan terbesar AstraZeneca dari potensi kewajiban finansial yang signifikan.
Rincian Putusan Pengadilan
Pengadilan Banding AS untuk Sirkuit Federal di Washington setuju dengan putusan pengadilan tingkat pertama bahwa dua paten yang diklaim Wyeth telah dilanggar oleh AstraZeneca adalah tidak sah. Pengadilan menguatkan putusan Hakim Distrik AS Matthew Kennelly dari tahun 2024.
Alasan utama pembatalan paten tersebut adalah kurangnya deskripsi tertulis yang valid. Pengadilan menemukan bahwa paten tersebut tidak cukup menjelaskan penemuannya sehingga seorang ilmuwan biasa tidak dapat menciptakannya kembali tanpa melakukan "eksperimentasi yang berlebihan".
Latar Belakang Sengketa
Pfizer, yang mengakuisisi Wyeth pada tahun 2009, mengajukan gugatan terhadap AstraZeneca pada tahun 2021. Perusahaan tersebut menuduh bahwa Tagrisso melanggar paten yang terkait dengan obat kanker payudara Nerlynx, yang diproduksi oleh Puma Biotechnology di bawah lisensi dari Pfizer.
AdSebelum putusan hakim dibatalkan, juri di Delaware pada tahun 2024 awalnya memberikan ganti rugi sebesar $107,5 juta kepada Wyeth. Kemenangan banding terbaru ini membatalkan putusan ganti rugi tersebut dan mengakhiri sengketa ini untuk keuntungan AstraZeneca.
Implikasi bagi Investor
Kemenangan hukum ini merupakan berita positif yang signifikan bagi AstraZeneca. Tagrisso adalah obat *blockbuster* yang menghasilkan pendapatan global lebih dari $7,2 miliar untuk perusahaan farmasi yang berbasis di Inggris tersebut tahun lalu, menurut laporan keuangan perusahaan.
Dengan putusan ini, AstraZeneca menghindari pembayaran ganti rugi yang besar dan menghilangkan ketidakpastian hukum yang membayangi aliran pendapatan vital dari Tagrisso. Bagi Pfizer, ini menandai kegagalan dalam upayanya untuk mendapatkan royalti dari salah satu obat terlaris pesaingnya.