Story
Saham Teknologi Asia Anjlok di Tengah Keraguan Reli AI Menjelang Keputusan The Fed dan BoJ

Saham-saham teknologi Asia merosot tajam pada perdagangan hari Senin, dipimpin oleh bursa Korea Selatan, seiring meningkatnya keraguan investor terhadap reli kecerdasan buatan (AI). Aksi jual ini terjadi di tengah kenaikan imbal hasil obligasi dan kehati-hatian pasar menjelang pertemuan kebijakan moneter bank sentral utama pekan ini.
Sektor Semikonduktor Pimpin Pelemahan
Indeks KOSPI Korea Selatan yang padat saham teknologi menjadi yang paling terpukul, anjlok sebesar 3,1%. Sementara itu, indeks Nikkei 225 Jepang juga tergelincir 1,1%. Sentimen negatif ini juga tercermin pada pasar berjangka AS, di mana Nasdaq 100 futures turun 1,2%, menandakan tekanan lanjutan pada saham-saham pertumbuhan.
Pelemahan ini berpusat pada saham-saham semikonduktor. Di Korea Selatan, saham produsen chip memori yang merupakan pemasok utama untuk prosesor AI mengalami tekanan jual signifikan:
- SK Hynix turun 4,3%
- Samsung Electronics melemah 2,5%
Di Jepang, saham-saham terkait chip juga tertekan, dengan Kioxia anjlok 7,1% dan Murata Manufacturing turun 3,6% seiring investor beralih dari saham teknologi di tengah kenaikan biaya pinjaman.
Tekanan dari Imbal Hasil Obligasi dan Sentimen AI
AdAksi jual ini dipicu oleh kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS (U.S. Treasury) yang mendekati level 5% setelah rilis data inflasi AS yang lebih panas dari perkiraan. Pasar kini memperkirakan probabilitas 86% untuk kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin oleh Federal Reserve AS. Imbal hasil yang lebih tinggi cenderung sangat membebani saham teknologi dengan valuasi premium karena mengurangi nilai pendapatan masa depan mereka.
Selain itu, keraguan terhadap valuasi sektor AI semakin dalam setelah CEO Anthropic, Dario Amodei, menyerukan perlambatan pengembangan model AI yang semakin kuat dengan alasan keamanan. Komentar ini menambah kekhawatiran yang sudah ada mengenai valuasi yang tinggi di seluruh saham infrastruktur AI.
Investor Menantikan Keputusan Bank Sentral
Pelemahan saham teknologi terjadi dalam konteks sentimen *risk-off* yang lebih luas, yang diperburuk oleh lonjakan harga minyak di atas $100 per barel. Kenaikan harga energi ini meningkatkan kekhawatiran bahwa inflasi akan tetap tinggi dan memaksa bank sentral untuk mempertahankan kebijakan moneter yang ketat.
Fokus pasar kini tertuju pada keputusan kebijakan dari Federal Reserve pada hari Rabu dan Bank of Japan (BoJ) pada hari Jumat. Para pedagang juga memperhitungkan probabilitas tinggi kenaikan suku bunga oleh BoJ, sebuah langkah yang telah menopang yen namun memberikan tekanan tambahan pada ekuitas Jepang.