Story
Mata Uang Asia Menguat Tipis Seiring Pelemahan Dolar Pasca Data Inflasi Produsen AS

Mayoritas mata uang Asia bergerak menguat tipis pada hari Jumat, sementara dolar AS sedikit melemah setelah rilis data inflasi AS yang lemah meredam ekspektasi pasar terhadap kenaikan suku bunga Federal Reserve dalam waktu dekat.
Indeks Dolar AS tercatat turun 0,1% menjadi 99,87 pada pukul 01:03 ET (05:03 GMT), melanjutkan pelemahan ringan dari sesi sebelumnya. Pergerakan ini memberikan sedikit ruang bagi aset-aset di pasar Asia yang sensitif terhadap risiko.
Data PPI AS Meredam Ekspektasi Kenaikan Suku Bunga Fed
Data yang dirilis pada hari Kamis menunjukkan bahwa harga produsen (PPI) AS secara tak terduga datar pada bulan Juli. Angka ini menambah bukti bahwa tekanan inflasi di ekonomi terbesar dunia tersebut sedang mereda.
Laporan ini menyusul data harga konsumen (IHK) yang menunjukkan IHK utama naik 3,4% secara tahunan pada bulan Juli, sementara IHK inti melambat menjadi 2,5%. Akibatnya, probabilitas kenaikan suku bunga The Fed pada pertemuan September kini turun menjadi sekitar 35%, dari 55% pada minggu sebelumnya, menurut CME FedWatch Tool. Pergeseran ekspektasi ini menjadi sentimen positif bagi mata uang Asia.
Faktor Pembatas Penguatan
AdMeski demikian, penguatan mata uang Asia tetap terbatas karena investor masih mencermati sejumlah faktor risiko global. Ketegangan geopolitik di Timur Tengah dan kenaikan harga minyak menjadi penahan utama.
Kekhawatiran meningkat setelah Menteri Pertahanan AS, Pete Hegseth, menyatakan bahwa militer AS dapat mempertahankan blokade laut di pelabuhan Iran. Eskalasi ini berisiko mengganggu pengiriman melalui Selat Hormuz, rute vital untuk pasokan minyak dan gas alam cair global. Harga minyak mentah diproyeksikan naik 4% secara mingguan, yang dapat memicu kembali kekhawatiran inflasi dan membatasi keuntungan bagi mata uang negara-negara pengimpor energi di Asia.
Pergerakan Mata Uang Regional
Di antara mata uang utama di kawasan, pergerakannya bervariasi namun cenderung menguat terhadap dolar:
- Yen Jepang (JPY): Pasangan USD/JPY turun tipis 0,1% ke 159,34, meskipun yen masih berada di jalur pelemahan mingguan sebesar 1%. Pelaku pasar tetap waspada terhadap potensi intervensi jika yen menembus level 160 per dolar.
- Won Korea Selatan (KRW): Pasangan USD/KRW turun 0,2%.
- Yuan Tiongkok (CNY): Pasangan USD/CNY diperdagangkan relatif datar.
- Dolar Australia (AUD): Pasangan AUD/USD naik 0,1%.
- Rupee India (INR) dan Dolar Singapura (SGD): Kedua mata uang ini juga mencatatkan penguatan tipis terhadap dolar AS.