Story
Aramco: Konflik AS-Iran Hilangkan 2,6 Miliar Barel Minyak dari Pasar Global

Summary
CEO Aramco menyatakan konflik yang menutup Selat Hormuz telah menghilangkan 2,6 miliar barel minyak dari pasokan global, dan memperingatkan bahwa persediaan dunia kini berada pada level yang rendah.
CEO raksasa minyak Arab Saudi, Aramco, menyatakan bahwa dunia telah kehilangan lebih dari 2,6 miliar barel minyak sejak konflik AS-Israel dengan Iran dimulai pada bulan Februari. Angka ini setara dengan hampir satu bulan produksi minyak mentah global, menyoroti skala gangguan yang telah menutup titik strategis utama, Selat Hormuz.
Dampak Konflik Terhadap Pasokan
Menurut CEO Aramco, Amin Nasser, gangguan pasokan ini telah menyebabkan inventaris global menipis secara signifikan meskipun ada langkah-langkah darurat untuk meredam dampaknya. "Jika Selat dibuka hari ini, akan dibutuhkan waktu hingga 18 bulan dengan laju rata-rata 2,1 juta barel per hari untuk mengisi kembali inventaris yang terkuras," kata Nasser pada hari Selasa.
Kehilangan pasokan yang masif ini telah mengubah peta pasar energi dan belum menunjukkan tanda-tanda akan mereda. Meski demikian, Aramco melaporkan lonjakan laba bersih sebesar 44% menjadi $32,69 miliar pada kuartal kedua yang berakhir 30 Juni, didorong oleh harga minyak mentah, produk olahan, dan bahan kimia yang lebih tinggi, serta kemampuan perusahaan untuk mengalihkan rute pengiriman menjauhi Hormuz.
Eskalasi Risiko dan Kinerja Operasional
Gangguan pasokan berisiko meluas setelah pasukan Houthi yang bersekutu dengan Iran mengumumkan blokade terhadap industri minyak Arab Saudi bulan lalu. Langkah ini menambah tekanan pada pelayaran di Laut Merah dan memperluas dampak konflik, mengancam rute Pipa Timur-Barat—alternatif utama untuk Hormuz—dan terminal ekspor Saudi di Laut Merah.
AdMenanggapi serangan baru-baru ini terhadap fasilitas di dua pelabuhan Laut Merah, Nasser menyatakan bahwa meskipun ada beberapa gangguan produksi, dampaknya secara operasional dan finansial tidak material. Ia yakin Aramco dapat memulihkan operasi dengan cepat berkat kapasitas penyimpanan, terminal ekspor, dan kemampuan untuk meningkatkan pengiriman melalui Pipa Timur-Barat.
Kerentanan Pasar dan Prospek ke Depan
Nasser memperingatkan bahwa industri minyak saat ini memiliki sedikit penyangga untuk menyerap gangguan lebih lanjut. Sistem penyulingan global sangat rentan, dengan sebagian besar kilang beroperasi mendekati tingkat utilisasi maksimum. Setiap gangguan besar yang tidak terencana atau berkepanjangan pada kilang dapat memberikan tekanan tambahan pada pasokan energi global.
Produksi hidrokarbon total perusahaan pada kuartal kedua rata-rata mencapai 9,5 juta barel per hari, turun dari 12,8 juta barel per hari pada periode yang sama tahun sebelumnya. Namun, Nasser optimistis bahwa setelah gangguan mereda, produksi dapat kembali ke tingkat pra-konflik dalam beberapa hari dan mencapai kapasitas berkelanjutan maksimum Aramco sebesar 12 juta barel per hari dalam waktu tiga minggu jika diperlukan.