Story
Ketidakpastian Rundingan AS-Iran Meningkat Seiring Serangan Kapal di Selat Hormuz

Summary
Sinyal yang saling bertentangan dari Amerika Serikat dan Iran mengenai perundingan damai, ditambah dengan serangan baru terhadap kapal komersial, telah meningkatkan ketidakpastian di pasar energi global dan menyoroti risiko yang sedang berlangsung di Selat Hormuz.
Sinyal yang saling bertentangan dari Amerika Serikat dan Iran mengenai status perundingan untuk mengakhiri konflik lima bulan mereka telah meningkatkan ketidakpastian pasar pada hari Selasa. Ketegangan ini diperparah oleh serangan terbaru terhadap sebuah kapal di Selat Hormuz, yang menyoroti risiko berkelanjutan terhadap arus energi global.
Sinyal yang Bertentangan
Presiden AS Donald Trump pada hari Senin menyatakan bahwa perundingan sedang berlangsung atas permintaan Teheran, dan memperingatkan bahwa ini adalah "kesempatan terakhir" bagi Iran untuk menandatangani kesepakatan yang baik. "Perundingan itu sedang berlangsung saat ini," kata Trump kepada wartawan, seperti dilaporkan oleh Reuters.
Namun, Iran dengan tegas membantah pernyataan tersebut. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmail Baghaei, mengatakan bahwa tidak ada negosiasi dengan Amerika Serikat yang sedang berlangsung atau dijadwalkan. Ia menambahkan bahwa satu-satunya diskusi yang berjalan adalah dengan Oman mengenai pengelolaan Selat Hormuz.
Belakangan, dalam sebuah unggahan di platform Truth Social, Trump menyebut kepemimpinan Iran "sangat licik" tetapi menegaskan bahwa lebih banyak pembicaraan akan dilakukan dalam "waktu dekat". Ia juga mengulangi klaimnya bahwa Angkatan Laut AS memiliki kendali penuh atas Selat Hormuz.
Insiden di Hormuz dan Dampak Pasar
Ketegangan di lapangan semakin memuncak setelah lembaga Operasi Perdagangan Maritim Inggris (UKMTO) melaporkan bahwa sebuah kapal kargo terkena proyektil tak dikenal di dekat selat tersebut di lepas pantai Oman. Insiden ini menggarisbawahi kerentanan jalur air strategis yang menyalurkan sekitar seperlima dari pengiriman minyak mentah dan gas alam global.
AdData dari Kpler menunjukkan lalu lintas melalui Hormuz tetap lambat, dengan hanya enam kapal yang transit pada hari Senin, turun dari tujuh pada hari sebelumnya. Meskipun demikian, harapan awal akan meredanya ketegangan sempat memengaruhi pasar:
- Harga minyak mentah Brent turun sekitar 7% menjadi sekitar $83,77 per barel.
- Indeks saham utama AS, Dow Jones, ditutup pada rekor tertinggi pada hari Senin.
Namun, bursa saham Asia dan harga minyak sedikit menguat pada hari Selasa karena ketidakpastian kembali menyelimuti prospek resolusi konflik.
Latar Belakang Strategis
Para analis menilai Iran kemungkinan bertaruh dapat menekan Washington dengan mengubah rute perdagangan, jalur pelayaran, dan infrastruktur energi di Timur Tengah menjadi titik-titik tekanan. Strategi ini bertujuan untuk meyakinkan Amerika Serikat dan sekutunya bahwa menahan krisis ini lebih mahal daripada mengakomodasi tuntutan Iran atas Selat Hormuz.
Peristiwa ini tampaknya mengikuti pola yang berulang, di mana Trump beberapa kali mengancam akan melakukan tindakan militer yang signifikan, namun kemudian mundur dengan alasan adanya kontak diplomatik. Sengketa mengenai Selat Hormuz tetap menjadi inti pertikaian, di mana kedua belah pihak memiliki interpretasi yang berbeda atas nota kesepahaman yang gagal pada bulan Juli lalu.