Story
Pemerintahan Trump Beri Pinjaman $100 Juta ke Africell untuk Lawan Huawei di Afrika

Pemerintahan Trump akan memberikan pinjaman senilai hampir $100 juta kepada Africell, satu-satunya perusahaan telekomunikasi milik Amerika di Afrika, sebagai bagian dari upaya strategis untuk menandingi ekspansi Huawei Technologies dari Cina di benua tersebut. Langkah ini menggarisbawahi persaingan teknologi yang semakin intens antara Washington dan Beijing.
Detail Pinjaman dan Tujuan Strategis
Menurut draf rilis pers yang ditinjau oleh Reuters, pinjaman dari Export-Import Bank (EXIM) AS ini bertujuan untuk "memungkinkan Africell berinvestasi dalam teknologi jaringan seluler terbaru dari pemasok Amerika dan negara-negara sekutu." Pendanaan ini merupakan bagian dari kampanye Washington yang lebih luas untuk mendorong penggunaan peralatan telekomunikasi non-Huawei di luar negeri.
"Kami senang dapat bekerja sama dengan EXIM untuk memperkenalkan infrastruktur komunikasi yang lebih tepercaya dan aman ke pasar operasi kami," kata Ziad Dalloul, CEO Africell Holding Limited, dalam dokumen tersebut. Langkah ini sejalan dengan inisiatif "jaringan bersih" (clean network) yang diluncurkan pemerintahan Trump untuk menyingkirkan teknologi Cina dari infrastruktur telekomunikasi di AS dan negara-negara sekutunya.
Konteks Persaingan di Pasar Afrika
Langkah AS ini diambil di tengah dominasi kuat Huawei di Afrika. Menurut data dari Counterpoint Research, Huawei menguasai sekitar 52% pangsa pasar untuk infrastruktur 5G di Afrika. Washington telah berulang kali menyuarakan kekhawatiran bahwa peralatan Huawei dapat digunakan untuk kegiatan mata-mata oleh pemerintah Cina, sebuah tuduhan yang secara konsisten dibantah oleh perusahaan tersebut.
AdPinjaman ini juga merupakan tindak lanjut dari perintah eksekutif tahun 2025 yang mengamanatkan lembaga-lembaga AS untuk mempromosikan penggunaan teknologi Amerika di luar negeri. Ini bukan pertama kalinya Africell menerima dukungan keuangan dari AS; pada tahun 2018, perusahaan ini menerima pinjaman $100 juta dari Overseas Private Investment Corporation, yang kini dikenal sebagai International Development Finance Corporation (DFC).
Implikasi bagi Investor dan Pasar
Bagi investor, pendanaan ini menandakan dukungan politik dan finansial yang kuat dari pemerintah AS terhadap perusahaan-perusahaan yang menjadi alternatif bagi Huawei. Africell, yang melayani 15 juta pelanggan di Angola, Gambia, Republik Demokratik Kongo, dan Sierra Leone, menggunakan teknologi dari pemasok Barat seperti HP, Nokia, Dell, dan Oracle.
Dukungan berkelanjutan ini dapat memperkuat posisi kompetitif Africell dan perusahaan sejenis di pasar negara berkembang, sekaligus menciptakan peluang baru bagi pemasok teknologi asal AS dan sekutunya. Namun, hal ini juga dapat meningkatkan ketegangan geopolitik dalam sektor telekomunikasi global, dengan negara-negara di Afrika berada di tengah persaingan antara dua kekuatan ekonomi dunia.