Story
Dolar Menguat di Tengah Eskalasi Tensi Timur Tengah, Permintaan Safe-Haven Meningkat

Summary
Dolar AS naik karena investor mencari aset aman di tengah laporan serangan baru terhadap kapal tanker minyak di Selat Hormuz. Perkembangan ini membayangi data ekonomi dan mengalihkan fokus dari kebijakan bank sentral ke risiko geopolitik.
Dolar AS menguat pada perdagangan hari Selasa, karena eskalasi ketegangan geopolitik di Timur Tengah mendorong investor untuk beralih ke aset *safe-haven*. Perkembangan ini mengalihkan fokus utama pasar dari prospek kebijakan moneter ke risiko keamanan global, yang menopang daya tarik dolar sebagai mata uang cadangan utama dunia.
Pada pukul 16:56 ET (20:56 GMT), Indeks Dolar AS, yang mengukur kekuatan *greenback* terhadap enam mata uang utama lainnya, naik 0,2% menjadi 101,10.
Ketegangan Geopolitik Memicu Permintaan Aset Aman
Permintaan terhadap dolar sebagai aset aman melonjak setelah Amerika Serikat mencabut lisensi utama Iran sebagai respons terhadap serangan baru terhadap kapal-kapal di Teluk. Menurut laporan Reuters dan Axios yang mengutip seorang pejabat AS, langkah ini merupakan konsekuensi atas tindakan Iran yang "tidak dapat diterima".
United Kingdom Maritime Trade Operations (UKMTO) sebelumnya melaporkan adanya serangan terhadap tiga kapal tanker minyak terpisah di sekitar Selat Hormuz dalam 24 jam terakhir. Akibat insiden ini, UKMTO menaikkan tingkat ancaman di kawasan tersebut menjadi "parah". Eskalasi ini secara langsung mendorong harga minyak melonjak lebih dari 5%, yang semakin memperkuat sentimen penghindaran risiko (*risk-off*) di pasar global.
Fokus Beralih dari Kebijakan Moneter
AdSebelum meningkatnya ketegangan geopolitik, kebijakan moneter Federal Reserve menjadi pendorong utama pergerakan dolar. Pekan lalu, dolar sempat melemah setelah rilis data pekerjaan AS yang lebih lunak dari perkiraan, yang mengurangi tekanan bagi The Fed untuk menaikkan suku bunga lebih lanjut.
Investor kini akan mengamati dengan cermat rilis risalah rapat Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) bulan Juni yang dijadwalkan pada hari Rabu. Dokumen tersebut diharapkan dapat memberikan wawasan lebih lanjut mengenai pandangan para pembuat kebijakan tentang inflasi dan prospek suku bunga di masa depan.
Pergerakan Mata Uang Utama Lainnya
Di Eropa, euro melemah 0,3% terhadap dolar menjadi $1,1411. Data produksi industri Jerman yang lebih kuat dari perkiraan gagal menopang euro setelah pejabat Bank Sentral Eropa (ECB), Fabio Panetta, memberikan pandangan yang hati-hati dan menyebut prospek ekonomi zona euro masih rapuh.
Sementara itu, yen Jepang tetap berada di bawah tekanan, dengan pasangan USD/JPY diperdagangkan di level 162,10, mendekati level terendah dalam 40 tahun. Terhadap pound sterling, yen bahkan mencapai level terlemahnya sejak 2007, membuat para pedagang tetap waspada terhadap potensi intervensi pasar oleh otoritas Jepang untuk menopang mata uangnya.