Story
Militer AS Lakukan Serangan ke Iran Selama 12 Malam Berturut-turut, Meningkatkan Ketegangan Regional

Summary
Militer AS telah menyelesaikan serangan malam ke-12 berturut-turut terhadap sasaran militer Iran, meningkatkan ketegangan di Timur Tengah dan memicu kekhawatiran atas stabilitas pasokan energi regional.
Militer Amerika Serikat, atas arahan Presiden Donald Trump, telah menyelesaikan serangan terbaru terhadap Iran untuk malam ke-12 berturut-turut. Perkembangan ini menandai eskalasi signifikan dalam konflik yang telah berlangsung sejak Februari dan meningkatkan risiko terhadap stabilitas ekonomi di kawasan tersebut.
Rincian Operasi dan Eskalasi Ancaman
Komando Pusat AS (U.S. Central Command) menyatakan dalam sebuah rilis pada hari Rabu bahwa serangan terbaru berlangsung selama lima jam. Operasi ini menargetkan berbagai aset militer Iran.
- Sasaran serangan mencakup: kapabilitas maritim, fasilitas penyimpanan rudal dan drone, situs pengawasan pesisir, dan aset pertahanan udara.
- Sepanjang bulan Juli, pasukan AS telah menargetkan puluhan situs militer Iran di darat sambil melanjutkan blokade maritim terhadap negara tersebut.
Ketegangan semakin meningkat setelah Presiden Trump pada hari Rabu berjanji akan menghancurkan jembatan atau pembangkit listrik Iran setiap kali Iran menembaki kapal di Selat Hormuz. Menanggapi ancaman tersebut, komando militer gabungan Iran memperingatkan akan menargetkan fasilitas minyak, gas, listrik, dan ekonomi regional jika AS melanjutkan rencananya, menurut laporan media pemerintah.
Implikasi Pasar dan Latar Belakang Konflik
AdAncaman timbal balik yang menargetkan infrastruktur energi dan ekonomi memiliki implikasi serius bagi pasar global, terutama pasar minyak. Selat Hormuz adalah jalur perairan vital untuk sebagian besar pasokan minyak dunia, dan setiap gangguan di area ini dapat menyebabkan lonjakan harga energi secara signifikan.
Konflik saat ini dimulai ketika AS dan Israel menyerang Iran pada 28 Februari, yang dibalas oleh Iran dengan serangan terhadap Israel dan negara-negara Teluk yang menjadi pangkalan militer AS. Konflik ini telah menyebabkan ribuan korban jiwa, jutaan orang mengungsi, dan jumlah korban tewas di pihak pasukan AS telah meningkat menjadi 18 orang dalam beberapa hari terakhir.
Peringatan Hukum Internasional
Ancaman untuk menargetkan infrastruktur sipil yang esensial, seperti pembangkit listrik dan jembatan, telah menimbulkan kekhawatiran dari perspektif hukum internasional. Para ahli hukum di Amerika Serikat pada bulan April menyatakan bahwa serangan semacam itu dapat dianggap sebagai kejahatan perang.
Menurut Konvensi Jenewa 1949 tentang perilaku kemanusiaan dalam perang, serangan terhadap situs-situs yang dianggap penting bagi warga sipil adalah tindakan yang dilarang. Ancaman sebelumnya dari Trump untuk menghancurkan seluruh peradaban Iran juga telah menuai kecaman luas.