Story
IMO Desak Negara-Negara Tolak Upaya Iran Kontrol Selat Hormuz

Summary
Dewan pengatur International Maritime Organization (IMO) PBB mendesak negara-negara anggota untuk menolak klaim kedaulatan Iran dan pembentukan badan baru untuk mengontrol lalu lintas di Selat Hormuz, di tengah meningkatnya ketegangan di jalur pelayaran vital tersebut.
Dewan pengatur badan pelayaran Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) telah sepakat bahwa negara-negara anggota harus menolak upaya Iran untuk memaksakan kedaulatan atas Selat Hormuz. Keputusan ini juga mengutuk pembentukan badan baru oleh Teheran yang bertujuan untuk mengontrol lalu lintas di jalur air strategis tersebut.
Keputusan Dewan IMO
Dalam sebuah keputusan yang tidak mengikat pada hari Jumat, dewan pengatur International Maritime Organization (IMO) yang berbasis di London "mengutuk keras" keputusan Iran untuk "mendirikan entitas yang bertujuan mengontrol lalu lintas melalui selat tersebut," menurut teks keputusan yang dikutip oleh Reuters.
Dewan IMO menyerukan kepada 176 negara anggotanya untuk tidak mengakui beberapa hal:
- Klaim kedaulatan Iran atas Selat Hormuz.
- Penegasan yurisdiksi atas zona maritim negara ketiga di dalam dan sekitar selat.
- Setiap keputusan Iran yang bertujuan "menutup, menghalangi, atau mengganggu navigasi internasional dan hak lintas transit."
Langkah ini menyusul pengumuman dari Otoritas Selat Teluk Persia bentukan Iran pada bulan Juni, yang menyatakan bahwa tidak ada kapal yang diizinkan melewati jalur air tersebut "tanpa izin lintas yang sah" yang dikeluarkan oleh badan itu.
Respons Iran dan Latar Belakang
AdIran, yang tidak memiliki kursi di dewan tersebut, menolak tuduhan yang disebutnya "selektif, bermotivasi politik, dan tidak berdasar secara hukum," kata delegasinya kepada IMO. Teheran berargumen bahwa mereka bukan pihak dalam konvensi maritim internasional UNCLOS dan "tidak terikat oleh rezim berbasis perjanjian tersebut."
Menurut delegasi Iran, tindakan yang diterapkan dimaksudkan untuk menegakkan keselamatan dan keamanan maritim serta tidak merupakan penutupan selat. Keputusan IMO ini muncul di tengah meningkatnya ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat, termasuk serangan terhadap kapal-kapal yang menurut Washington dilakukan oleh Teheran, yang telah memperbarui kekhawatiran tentang keamanan pasokan minyak global.
Implikasi bagi Pasar dan Pelayaran
Selat Hormuz adalah salah satu *chokepoint* atau titik hambatan maritim terpenting di dunia, di mana sebagian besar minyak global melewatinya setiap hari. Setiap gangguan atau peningkatan risiko di selat ini dapat berdampak signifikan pada harga minyak mentah dan biaya pengiriman.
Meskipun keputusan IMO tidak mengikat secara hukum, keputusan ini menandakan front diplomatik yang bersatu melawan tindakan Iran. Bagi investor dan pelaku industri pelayaran, ini menggarisbawahi risiko geopolitik yang terus berlanjut di wilayah tersebut, yang dapat menyebabkan volatilitas harga energi dan peningkatan premi asuransi untuk kapal-kapal yang beroperasi di Teluk.