Story
Rio Tinto Catat Kenaikan Penjualan Bijih Besi Kuartal II, Pertahankan Proyeksi 2026

Summary
Raksasa pertambangan Rio Tinto melaporkan penjualan bijih besi yang lebih tinggi pada kuartal kedua, didorong oleh kinerja operasional yang kuat di Pilbara, meskipun produksi tembaga mengalami pelemahan. Perusahaan mempertahankan proyeksi produksi setahun penuh untuk tahun 2026.
Rio Tinto (ASX:RIO) melaporkan kenaikan penjualan bijih besi pada kuartal kedua dan mempertahankan proyeksi produksi setahun penuh, di mana kinerja operasional yang lebih kuat di bisnis Pilbara berhasil mengimbangi pelemahan pada produksi tembaga.
Kinerja Operasional Kuartal II
Dalam laporan terbarunya, Rio Tinto menyatakan bahwa penjualan bijih besi global naik 5% dari tahun sebelumnya menjadi 88,8 juta metrik ton pada kuartal kedua. Kinerja ini didorong oleh operasi di Pilbara, Australia, di mana penjualan melonjak 7% menjadi 85,3 juta ton, level kuartalan tertinggi sejak tahun 2020.
Produksi di Pilbara sendiri tercatat stabil secara tahunan pada 83,5 juta ton (basis 100%), sementara produksi semester pertama meningkat 6%. Sebaliknya, produksi tembaga terkonsolidasi turun 7% secara tahunan menjadi 213.000 metrik ton pada kuartal tersebut, yang mencerminkan output lebih rendah di tambang Kennecott dan Escondida.
Proyeksi dan Biaya Produksi
Perusahaan mempertahankan seluruh proyeksi produksi utama untuk tahun 2026 tidak berubah. Namun, Rio Tinto memangkas proyeksi biaya unit bersih (C1) tembaga untuk tahun 2026 menjadi 30-50 sen A.S. per pon, turun dari sebelumnya 65-75 sen. Penyesuaian ini didasarkan pada harga emas yang lebih tinggi dan peningkatan produktivitas.
AdDirektur Utama Simon Trott mengatakan bahwa produksi ekuivalen tembaga naik 3% pada semester pertama. Peningkatan ini didorong oleh beberapa faktor kunci:
- Rekor produksi bijih besi Pilbara pada semester pertama sejak 2018.
- Peningkatan produksi berkelanjutan di tambang tembaga Oyu Tolgoi.
- Operasi aluminium yang tangguh di tengah ketidakpastian geopolitik.
Konteks Pasar
Kinerja yang solid di segmen bijih besi ini penting bagi investor karena merupakan sumber pendapatan utama perusahaan. Kemampuan Rio Tinto untuk meningkatkan penjualan di tengah dinamika pasar global menunjukkan efisiensi operasional. Di sisi lain, penurunan produksi tembaga menyoroti tantangan operasional di tambang tertentu, meskipun produksi semester pertama secara keseluruhan masih mencatat kenaikan tipis 1%.
Rio Tinto juga menyebutkan bahwa dampak operasional dari konflik di Timur Tengah sejauh ini terbatas. Meskipun demikian, perusahaan terus memantau risiko yang terkait dengan Selat Hormuz dan rantai pasokan global.