Story

Pengaruh OPEC+ di Pasar Minyak Melemah di Tengah Perang Iran, Peran China Menguat

ENTHMSVIIDZHZH-TWJAKOHI
Aug 27, 20262 min read
Pengaruh OPEC+ di Pasar Minyak Melemah di Tengah Perang Iran, Peran China Menguat

Summary

Enam bulan setelah perang Iran, kemampuan OPEC+ untuk memengaruhi harga minyak global telah terkikis secara signifikan akibat gangguan pasokan dan blokade Selat Hormuz. Sementara itu, penurunan impor minyak oleh China kini menjadi faktor penyeimbang utama di pasar.

Text size
Background

Enam bulan setelah dimulainya perang Iran, aliansi minyak paling kuat di dunia, OPEC+, mendapati dirinya dalam posisi yang tidak biasa: tidak mampu memengaruhi pasar yang pernah mereka dominasi. Perang tersebut telah mengikis pangsa pasar grup secara signifikan dan melemahkan kemampuannya untuk menggerakkan harga.

Berkurangnya Pangsa Pasar dan Pengaruh

Perang yang telah menutup rute ekspor utama minyak Timur Tengah dan merusak infrastruktur energi di beberapa negara anggota telah menekan posisi OPEC+. Menurut perhitungan Reuters berdasarkan data Badan Energi Internasional (IEA), pangsa pasar OPEC+ terhadap produksi minyak global turun menjadi sekitar 40% pada bulan Juli, turun dari lebih dari 48% sebelum konflik.

Penurunan ini, meskipun sebagian disebabkan oleh keluarnya Uni Emirat Arab dari OPEC pada bulan Mei, menunjukkan hilangnya pengaruh yang signifikan. Kelompok inti OPEC+ yang terdiri dari tujuh produsen, termasuk Arab Saudi dan Rusia, kini hanya menyumbang seperempat dari produksi minyak dunia. Akibatnya, keputusan kebijakan dan pernyataan grup tersebut kini hampir tidak berdampak pada pergerakan harga minyak, berbeda tajam dengan beberapa tahun sebelumnya ketika setiap pengumuman mereka diawasi ketat oleh para pedagang.

Dampak Gangguan Pasokan Fisik

Kemampuan OPEC+ untuk menaikkan atau memangkas produksi secara cepat telah sangat terhambat oleh penutupan efektif Selat Hormuz, jalur ekspor krusial bagi produsen utama seperti Arab Saudi, Irak, dan Kuwait. Skala gangguan yang menimpa beberapa produsen secara bersamaan ini tidak biasa, bahkan jika dibandingkan dengan konflik-konflik sebelumnya.

Sample IUX Markets – In-articleAd

Sejak bulan Maret, kelompok inti OPEC+ telah mengumumkan enam kali kenaikan produksi minyak. Namun, sebagian besar pengumuman ini tetap bersifat teoretis karena blokade Hormuz, sehingga dampaknya terhadap harga minyak sangat kecil. Fokus pasar telah bergeser dari pertanyaan "berapa banyak minyak yang akan dipompa OPEC+" menjadi "berapa banyak minyak yang secara fisik dapat diproduksi dan diekspor."

China Muncul sebagai Penyeimbang Baru

Di tengah melemahnya pengaruh OPEC+, penurunan tajam dalam impor minyak China telah muncul sebagai salah satu pendorong harga terbesar tahun ini. Sejak perang dimulai, China telah membeli sekitar 400 juta barel minyak lebih sedikit dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Penurunan ini mencerminkan kombinasi dari larangan ekspor bahan bakar, output kilang yang lebih rendah, dan meningkatnya penggunaan transportasi listrik.

Tren ini menyoroti peran China yang semakin besar dalam menyeimbangkan pasar minyak, sebuah peran yang sebelumnya hampir secara eksklusif diasosiasikan dengan OPEC+ sebagai produsen ayunan (*swing producer*) dunia. Permintaan China yang lebih lemah telah membantu menahan kenaikan harga tahun ini. "Mereka telah menjadi pusat permintaan ayunan (*swing demand centre*)," kata June Goh, seorang analis di Sparta Commodities.

Back to latest news

LATEST