Story
Harga Minyak Melonjak Seiring Serangan AS ke Iran dan Insiden Tanker di Selat Hormuz

Summary
Ketegangan di Timur Tengah meningkat tajam setelah militer AS melancarkan serangan baru ke Iran dan dua tanker minyak diserang di Selat Hormuz. Insiden ini memicu lonjakan harga minyak mentah lebih dari 9% di tengah kekhawatiran gangguan pasokan global.
Militer Amerika Serikat melancarkan serangan terhadap Iran untuk malam ketiga berturut-turut, sementara dua tanker minyak dilaporkan terkena serangan di Selat Hormuz, jalur vital pelayaran energi global. Eskalasi ini secara signifikan meningkatkan ketegangan geopolitik di Timur Tengah dan mendorong harga minyak mentah melonjak tajam.
Eskalasi Militer di Jalur Perairan Vital
Komando Pusat AS (U.S. Central Command) mengonfirmasi bahwa pihaknya melakukan serangan atas arahan Presiden Donald Trump. Secara terpisah, Kementerian Pertahanan Uni Emirat Arab (UEA) melaporkan bahwa dua tanker minyaknya, Mombasa dan Al Bahiyah, dihantam oleh rudal jelajah Iran saat transit di perairan teritorial Oman. Insiden tersebut dilaporkan melukai satu awak kapal dan mencederai delapan lainnya.
Di sisi lain, Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mengklaim telah menyerang dua supertanker "pelanggar" yang mengabaikan peringatan dan mematikan sistem navigasi, menurut laporan media Iran. Pernyataan IRGC tidak menyebutkan nama kapal tersebut. Sementara itu, badan Operasi Perdagangan Maritim Inggris (UKMTO) juga melaporkan sebuah tanker terkena proyektil tak dikenal sekitar 40 mil laut di timur laut Qalhat, Oman, namun belum dapat diverifikasi apakah ini insiden yang sama.
Dampak Pasar dan Kebijakan Blokade AS
Ketidakpastian pasokan akibat konflik ini langsung memicu reaksi pasar energi. Harga minyak melonjak lebih dari 9% pada hari Senin, dengan rincian sebagai berikut:
Ad- Minyak mentah Brent mencatatkan kenaikan dolar harian terbesar sejak 2 April.
- Minyak mentah berjangka AS (WTI) membukukan kenaikan harian terbesar sejak 29 April.
Kepanikan pasar diperparah oleh kebijakan baru AS. Presiden Trump mengumumkan penerapan kembali blokade terhadap pelayaran Iran dan mengusulkan pungutan sebesar 20% bagi kapal yang melintasi Selat Hormuz sebagai biaya penjagaan. Joint Maritime Information Center yang dipimpin Angkatan Laut AS menyatakan blokade akan berlaku untuk semua lalu lintas kapal di sepanjang garis pantai Iran, meskipun transit netral dan pengiriman kemanusiaan yang telah diperiksa akan tetap diizinkan.
Saling Serang dan Laporan Ledakan
Eskalasi ini meluas melampaui serangan terhadap tanker. Media pemerintah Iran melaporkan serangkaian ledakan di beberapa lokasi strategis, termasuk kota pelabuhan Bandar Abbas, Pulau Kish, dan Provinsi Khuzestan. Televisi pemerintah Iran mengutip pernyataan militer yang mengklaim telah menargetkan "kapal musuh" AS dengan rudal jelajah dan fasilitas AS di Kuwait dengan drone.
Sebagai tanggapan, penasihat media untuk raja Bahrain mengatakan sistem pertahanan udara kerajaan berhasil mencegat dan menghancurkan serangan udara dari Iran. Insiden-insiden ini, yang menyusul pengumuman Iran sebelumnya untuk menutup jalur air tersebut, semakin meragukan prospek kesepakatan deeskalasi dan mengancam stabilitas pasokan energi global yang bergantung pada Selat Hormuz, di mana sekitar seperlima lalu lintas minyak dan gas dunia melewatinya setiap hari.