Story
Harga Minyak Anjlok ke Level Terendah 3 Minggu Seiring Meredanya Ketegangan AS-Iran

Summary
Harga minyak mentah turun tajam hampir 5% dalam perdagangan Asia, merespons pembatalan serangan militer AS terhadap Iran dan pengumuman negosiasi baru yang meredakan kekhawatiran pasar.
Harga minyak anjlok hampir 5% dalam perdagangan Asia pada hari Senin, mencapai level terendah dalam tiga minggu, setelah Presiden AS Donald Trump mengumumkan pembatalan serangan militer yang direncanakan terhadap Iran dan menyatakan negosiasi akan dilanjutkan.
Berdasarkan data pasar, kontrak berjangka Minyak Brent untuk pengiriman Oktober turun 4,8% menjadi $83,68 per barel. Sementara itu, kontrak berjangka West Texas Intermediate (WTI) merosot 4,9% ke level $80,50 per barel. Penurunan ini terjadi setelah kedua kontrak acuan tersebut sempat melonjak bulan lalu lebih dari 20%.
Meredanya Risiko Geopolitik
Penurunan harga dipicu langsung oleh pernyataan Presiden Trump pada hari Minggu, yang mengatakan bahwa ia membatalkan serangan militer setelah Teheran dan beberapa negara Timur Tengah meminta waktu untuk negosiasi. Menurut Trump, pembicaraan yang akan dimulai pada hari Senin bertujuan untuk membuka kembali Selat Hormuz dan memastikan Iran menghentikan ambisi nuklirnya.
Langkah de-eskalasi ini membalikkan sentimen pasar dari minggu lalu, ketika harga minyak sempat naik di atas $90 per barel. Kenaikan sebelumnya didorong oleh kekhawatiran gangguan pasokan yang lebih luas setelah serangkaian serangan terhadap infrastruktur energi dan jalur pelayaran di Timur Tengah, termasuk fasilitas minyak Arab Saudi dan kapal di Laut Merah.
AdPeningkatan Pasokan OPEC+
Tekanan turun terhadap harga minyak juga diperkuat oleh keputusan OPEC+ pada hari Minggu untuk menaikkan kuota produksi. Aliansi produsen minyak tersebut setuju untuk meningkatkan produksi sekitar 188.000 barel per hari mulai bulan September.
Langkah ini menandakan komitmen grup untuk secara bertahap mengembalikan pasokan ke pasar seiring dengan meredanya risiko geopolitik. Bagi investor, keputusan ini mengurangi kekhawatiran akan potensi defisit pasokan yang sebelumnya sempat mendorong harga lebih tinggi.