Story
Harga Minyak Turun di Tengah Harapan Diplomatik Timur Tengah

Summary
Harga minyak mentah melanjutkan penurunannya karena laporan kemajuan dalam negosiasi gencatan senjata di Timur Tengah, yang dapat membuka kembali Selat Hormuz yang strategis dan meredakan kekhawatiran pasokan global.
Harga minyak melanjutkan penurunannya pada hari Rabu, memperpanjang kerugian dari sesi sebelumnya. Tekanan jual ini dipicu oleh laporan media mengenai kemajuan dalam perundingan diplomatik untuk gencatan senjata di Timur Tengah, yang meningkatkan prospek pembukaan kembali Selat Hormuz.
Kemajuan Diplomatik Meredakan Tensi
Laporan dari kantor berita negara Rusia, RIA, yang mengutip sumber-sumber Pakistan dan Iran, menyebutkan bahwa Amerika Serikat dan Iran hampir mencapai kesepakatan gencatan senjata baru. Kesepakatan tersebut dilaporkan mencakup pengaturan navigasi bebas melalui Selat Hormuz dan diperkirakan akan diumumkan dalam beberapa hari mendatang. Investing.com belum dapat memverifikasi laporan RIA secara independen.
Perkembangan ini terjadi setelah pejabat Pakistan mengonfirmasi adanya kemajuan dalam mediasi antara Washington dan Teheran. Secara terpisah, Al Jazeera melaporkan bahwa Iran dan Oman telah menyetujui rute pelayaran sementara yang baru di Selat Hormuz, meskipun seorang pejabat Iran menekankan bahwa pembukaan penuh tidak akan terjadi sampai AS memenuhi komitmen sebelumnya.
Dampak terhadap Harga Minyak
Prospek pemulihan lalu lintas komersial melalui Selat Hormuz, yang menangani sekitar seperlima dari pasokan minyak dan LNG global sebelum konflik, telah menekan harga secara signifikan. Pada pukul 09:43 ET (21:43 WIB), harga minyak mentah berjangka Brent turun 1,6% menjadi $87,22 per barel, sementara minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) turun 1,3% menjadi $81,31 per barel. Harga telah anjlok lebih dari 5% pada hari Selasa menyusul berita awal tersebut.
AdAnalis Tetap Berhati-hati
Meskipun ada perkembangan positif, beberapa analis pasar tetap waspada. Analis di Vital Knowledge berpendapat bahwa "premi risiko geopolitik akan secara permanen melekat pada harga minyak," yang berarti harga kemungkinan tidak akan kembali ke level sebelum konflik karena risiko eskalasi tetap ada.
Analis di ING juga memperingatkan bahwa kesepakatan antara Iran dan Oman "tidak berarti aliran minyak melalui jalur penting ini akan kembali normal." Mereka menambahkan bahwa normalisasi penuh akan memerlukan AS untuk "mencabut blokade di pelabuhan-pelabuhan Iran dan melonggarkan sanksi."
Saat ini, lalu lintas tanker melalui selat tersebut masih sangat rendah. Data awal dari Kpler yang dikutip oleh CNBC menunjukkan hanya lima kapal komoditas yang melewatinya pada hari Selasa, jauh di bawah rata-rata 10 hari yang mencapai 15 kapal.