Story
Harga Minyak Anjlok Setelah Iran dan Oman Bahas Pembukaan Kembali Selat Hormuz

Summary
Harga minyak mentah turun tajam, melanjutkan pelemahan sesi sebelumnya, menyusul berita bahwa Iran telah memulai kembali perundingan dengan Oman untuk membuka kembali Selat Hormuz bagi lalu lintas komersial.
Harga minyak mentah anjlok pada perdagangan Rabu pagi, memperpanjang kerugian dari sesi sebelumnya setelah Iran mengumumkan telah memulai kembali perundingan dengan Oman yang berpotensi membuka kembali Selat Hormuz. Perkembangan ini meredakan kekhawatiran pasar terhadap gangguan pasokan dan menekan harga secara signifikan.
Rincian Penurunan Harga
Menurut data Investing.com, harga minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) turun 1,7% menjadi $81,01 per barel pada pukul 19:58 ET (23:58 GMT). Penurunan ini menyusul kejatuhan lebih dari 3% pada sesi sebelumnya.
Sementara itu, minyak mentah berjangka Brent telah merosot 5,6% pada hari Selasa. Pelemahan tajam ini menunjukkan reaksi cepat pasar terhadap potensi peningkatan pasokan minyak dari Timur Tengah jika jalur perairan strategis tersebut kembali dibuka.
Pembicaraan Hormuz Meredakan Kekhawatiran Pasokan
Koreksi harga dipicu oleh pernyataan Iran bahwa mereka telah memulai kembali pembicaraan dengan negara tetangga, Oman, mengenai pengelolaan lalu lintas komersial melalui Selat Hormuz. Kedua negara dilaporkan membahas pembentukan "koridor navigasi sementara bersama" melalui selat tersebut.
AdProspek dibukanya kembali lalu lintas komersial melalui Hormuz sangat membebani harga minyak mentah, karena para pedagang mulai mengurangi premi risiko pasokan dari harga saat ini. Sebelumnya, Iran juga telah mengizinkan beberapa kapal tanker minyak Irak untuk melewati selat tersebut, menandakan kemungkinan pelonggaran secara bertahap.
Konteks Geopolitik dan Pasar
Berita perundingan ini membayangi sentimen dari pengenaan sanksi ekonomi yang lebih ketat oleh Amerika Serikat terhadap Iran awal pekan ini. Langkah ini mengindikasikan bahwa Washington lebih memilih tekanan ekonomi daripada konfrontasi militer langsung.
Sebelum konflik, sekitar 20% dari total pasokan minyak dunia melewati Selat Hormuz. Penutupannya telah menyebabkan gangguan besar pada rantai pasok global dan mendorong harga minyak lebih tinggi. Meskipun ada pembicaraan, aktivitas pengiriman melalui Hormuz saat ini masih berada pada sebagian kecil dari tingkat sebelum perang, yang berarti pasokan minyak dari kawasan itu tetap terbatas.