Story
Harga Minyak Dekati Level Tertinggi 2 Minggu Akibat Penutupan Selat Hormuz dan Serangan Houthi

Summary
Harga minyak mentah naik mendekati level tertinggi dalam dua minggu karena kebuntuan antara AS dan Iran membuat Selat Hormuz tetap ditutup, sementara serangan Houthi yang terus berlanjut di Laut Merah menambah kekhawatiran gangguan pasokan.
Harga minyak naik pada hari Rabu, melanjutkan kenaikan baru-baru ini hingga mendekati level tertinggi dalam dua minggu. Kenaikan ini didorong oleh kekhawatiran pasar terhadap gangguan pasokan jangka panjang dari Asia Barat di tengah ketegangan geopolitik yang belum mereda.
Kebuntuan di Selat Hormuz
Salah satu pendorong utama harga adalah minimnya kemajuan dalam negosiasi antara Amerika Serikat dan Iran untuk membuka kembali Selat Hormuz, jalur vital yang sebelumnya menyumbang sekitar 20% dari pasokan minyak dunia. Situasi memanas setelah Washington menyatakan telah menyerang sebuah kapal di Teluk Oman yang dituduh menuju Iran.
Teheran mengisyaratkan bahwa Selat Hormuz akan tetap ditutup kecuali Washington menerima tuntutan reparasi. Kondisi ini menciptakan ketidakpastian yang signifikan bagi pasar energi global, mengingat peran strategis selat tersebut dalam lalu lintas tanker minyak.
Gangguan di Laut Merah Berlanjut
Selain ketegangan di Hormuz, pasar juga mencermati serangan berkelanjutan yang dilakukan oleh kelompok Houthi yang didukung Iran di Yaman. Serangan tersebut menargetkan kapal-kapal di Laut Merah dan Selat Bab el-Mandeb, menyusul deklarasi blokade laut terhadap Arab Saudi oleh kelompok tersebut.
AdPerkembangan ini menunjukkan bahwa konflik di Asia Barat tidak menunjukkan tanda-tanda mereda, sehingga para pedagang tetap waspada terhadap potensi gangguan pasokan minyak yang lebih luas dan mendukung kenaikan harga minyak mentah.
Rincian Harga
Berdasarkan data hingga pukul 21:03 ET (01:03 GMT), harga minyak mentah berjangka (futures) menunjukkan penguatan:
- Minyak mentah Brent naik 0,7% menjadi $89,55 per barel.
- Minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) naik 0,8% menjadi $83,89 per barel.