Story
News Corp Gugat Balik Brave Atas Tuduhan Scraping Konten untuk AI

Summary
Raksasa media News Corp melancarkan gugatan balik terhadap Brave Software, menuduh mesin pencari tersebut secara ilegal mengambil dan menjual kembali artikel berhak cipta untuk perusahaan AI. Langkah ini meningkatkan pertarungan hukum mengenai penggunaan konten dalam pengembangan kecerdasan buatan.
News Corp telah mengajukan gugatan balik terhadap Brave Software, menuduh perusahaan mesin pencari itu melakukan "pencurian terang-terangan" dengan mendistribusikan dan menjual versi artikel berhak cipta dari The Wall Street Journal dan New York Post kepada perusahaan kecerdasan buatan (AI).
Langkah hukum ini merupakan eskalasi dari perseteruan yang dimulai tahun lalu ketika Brave secara preemtif menggugat raksasa media tersebut untuk mendapatkan pernyataan pengadilan bahwa praktiknya legal.
Rincian Gugatan Balik
Dalam dokumen yang diajukan ke pengadilan federal Oakland, California, News Corp menyatakan bahwa tindakan *scraping* (pengambilan data) dan penjualan kembali artikelnya secara diam-diam oleh Brave berada "jauh di luar batas" doktrin hukum yang dikenal sebagai *fair use* atau penggunaan wajar.
Menurut gugatan tersebut, News Corp menuntut perintah pengadilan untuk menghentikan praktik tersebut serta ganti rugi moneter yang tidak disebutkan jumlahnya, ditambah denda hingga $150.000 per pelanggaran hak cipta.
- Tuduhan Utama: *Scraping* dan penjualan kembali konten berhak cipta secara tidak sah.
- Publikasi Terdampak: The Wall Street Journal, New York Post, dan properti media News Corp lainnya.
- Argumen News Corp: "Semakin banyak konten yang disalin dan dijual Brave, semakin banyak pendapatan yang dihasilkannya, dan semakin kecil insentif bagi perusahaan AI untuk menegosiasikan lisensi dengan penerbit yang memproduksi konten tersebut."
Konteks Perseteruan Hukum
AdGugatan balik ini adalah respons terhadap gugatan yang diajukan Brave pada Maret 2025. Brave mengambil langkah hukum terlebih dahulu setelah menerima surat somasi (*cease-and-desist*) dari News Corp. Negosiasi antara kedua belah pihak untuk mencapai "perjanjian berbasis pasar yang adil" dilaporkan gagal, yang mendorong Brave untuk mengajukan keluhan yang direvisi pada Mei 2026.
Brave berpendapat bahwa tindakannya, seperti mengindeks konten News Corp agar dapat dicari serta menyediakan cuplikan dan "ringkasan tingkat tinggi" kepada pengguna, merupakan bentuk *fair use*. Perusahaan yang berbasis di San Francisco itu juga menuduh News Corp berusaha menghambat kemajuan AI generatif.
Implikasi bagi Industri Media dan AI
Kasus ini menyoroti ketegangan yang lebih luas antara perusahaan teknologi dan penerbit konten mengenai penggunaan materi berhak cipta untuk melatih model AI. Banyak perusahaan media berpendapat bahwa karya mereka digunakan tanpa kompensasi yang layak, sementara perusahaan teknologi sering kali berlindung di bawah doktrin *fair use*.
CEO News Corp, Robert Thomson, menyatakan bahwa tindakan Brave mencerminkan "pengabaian terang-terangan" terhadap kerusakan pada penyebaran informasi. "Era perdagangan teknologi murahan ini harus berakhir jika jurnalisme ingin memiliki masa depan yang berkelanjutan," katanya dalam sebuah pernyataan. Hasil dari pertarungan hukum ini dapat menjadi preseden penting bagi hubungan komersial antara pengembang AI dan pemilik konten di masa depan.