Story
Saham Amerika Latin Bergerak Variatif; Brasil Menguat, Kolombia Melemah

Summary
Indeks saham regional Amerika Latin menguat tipis didorong oleh kenaikan harga minyak, namun kinerja pasar bervariasi dengan indeks Brasil naik sementara saham dan peso Kolombia tertekan oleh kekhawatiran fiskal.
Pasar saham dan mata uang Amerika Latin menunjukkan kinerja yang beragam pada hari Selasa, dengan kenaikan harga minyak memberikan sedikit dorongan di tengah kekhawatiran investor akibat meningkatnya imbal hasil obligasi global. Indeks MSCI yang melacak saham Amerika Latin naik tipis 0,2%, sementara indeks mata uang di kawasan tersebut juga menguat 0,2%.
Kinerja Pasar Regional
Kenaikan tipis pada kedua indeks menandai stabilisasi setelah terjadi penurunan pada sesi perdagangan sebelumnya. Sentimen investor di kawasan ini dibatasi oleh dua faktor yang saling bertentangan: harga minyak yang lebih tinggi, yang secara umum menguntungkan negara-negara pengekspor komoditas, dan kenaikan imbal hasil obligasi global, yang cenderung menarik modal dari pasar negara berkembang.
Pergerakan pasar sangat bervariasi di tingkat negara, dengan perkembangan politik dan fiskal domestik menjadi pendorong utama.
Fokus pada Brasil dan Kolombia
Brasil: Indeks Bovespa Pulih
AdDi Brasil, indeks saham acuan Bovespa naik 0,8%, pulih dari penurunan 0,9% pada hari Senin. Penguatan ini terjadi setelah rilis survei CNT/MDA yang menunjukkan Presiden Luiz Inacio Lula da Silva akan mengalahkan Senator Flavio Bolsonaro dalam pemilihan putaran kedua bulan depan. Sementara itu, mata uang real Brasil relatif tidak berubah.
Kolombia: Kekhawatiran Fiskal Menekan Pasar
Sebaliknya, pasar Kolombia berada di bawah tekanan. Indeks saham utama negara itu turun 0,9% dan mata uang peso melemah 0,2%. Sentimen negatif ini muncul setelah Kongres pada hari Senin menyetujui anggaran belanja pemerintah untuk tahun 2027 sebesar 634,9 triliun peso ($206,6 miliar).
Langkah ini diambil di tengah kondisi keuangan publik yang memburuk tajam, yang diperkirakan akan mendorong defisit fiskal ke rekor tertinggi tahun depan. Menurut Menteri Keuangan Miguel Gomez, pemerintah berencana mengajukan paket reformasi pajak dan melakukan pemotongan belanja untuk menekan defisit fiskal menjadi 7,2% dari produk domestik bruto (PDB).
Analis di Citi, dalam sebuah catatan, menyatakan bahwa pasar akan mencermati besaran dan sifat permanen dari penghematan belanja yang akan diupayakan pemerintah untuk memperbaiki kondisi fiskal.