Story
Saham JBHT & JBL Menguat, UAL & ASTS Tertekan di Perdagangan After-Hours

Summary
Saham J.B. Hunt melonjak berkat laporan laba yang kuat, sementara United Airlines anjlok akibat proyeksi yang mengecewakan dalam sesi perdagangan pasca-jam kerja yang beragam.
Pergerakan saham-saham utama AS menunjukkan divergensi dalam sesi perdagangan pasca-jam kerja, dipicu oleh rilis laporan keuangan, proyeksi perusahaan, dan aksi korporasi yang berbeda.
Saham J.B. Hunt Transport Services (JBHT) dan Jabil (JBL) mencatatkan kenaikan, sementara United Airlines (UAL) dan AST SpaceMobile (ASTS) menghadapi tekanan jual yang signifikan.
Pemenang Sesi: Laba Solid dan Buyback Saham
Saham raksasa logistik J.B. Hunt (JBHT) melonjak 6% setelah melaporkan hasil kuartal kedua yang secara meyakinkan melampaui ekspektasi analis. Perusahaan membukukan laba per saham (EPS) sebesar $1,91, lebih tinggi dari konsensus Wall Street sebesar $1,73. Pendapatan juga melampaui perkiraan, mencapai $3,5 miliar dibandingkan ekspektasi $3,23 miliar, menandakan pemulihan yang lebih sehat pada volume angkutan barang.
Sementara itu, saham produsen elektronik Jabil Inc. (JBL) naik tipis 0,8%. Kenaikan ini didorong oleh pengumuman dewan direksi yang menyetujui program pembelian kembali (buyback) saham baru senilai hingga $1,5 miliar. Langkah ini ditafsirkan oleh investor sebagai sinyal kepercayaan manajemen terhadap arus kas dan prospek fundamental perusahaan.
AdProyeksi Lemah dan Rencana Dilusi Memberatkan
Di sisi lain, saham United Airlines (UAL) anjlok 4% meskipun melaporkan kinerja kuartal kedua yang melampaui estimasi, dengan EPS $1,99 dan pendapatan $17,7 miliar. Aksi jual dipicu oleh proyeksi ke depan yang mengecewakan, di mana maskapai memperkirakan EPS kuartal ketiga berada di kisaran $2,50 hingga $3,50, deutlich di bawah target konsensus $3,62. Kenaikan biaya bahan bakar dan tekanan pada harga tiket menjadi sentimen negatif bagi profitabilitas jangka pendek.
Saham AST SpaceMobile, Inc. (ASTS) mengalami penurunan paling tajam, anjlok 10%. Penurunan ini menyusul pengumuman rencana penggalangan modal besar melalui penerbitan obligasi senior konversi senilai $1,0 miliar yang jatuh tempo pada 2034. Meskipun pendanaan ini penting untuk pengembangan jaringan seluler berbasis satelitnya, investor merespons negatif terhadap potensi dilusi kepemilikan saham di masa depan.