Story
Iran Perluas Serangan ke Negara Teluk, Deklarasikan Penutupan Selat Hormuz

Pasukan Iran dan Amerika Serikat terlibat dalam baku tembak rudal dan drone secara besar-besaran, dengan Teheran menargetkan fasilitas AS di beberapa negara Teluk pada hari Minggu dan menyatakan telah menutup kembali jalur pelayaran vital Selat Hormuz. Serangan ini menandai eskalasi signifikan dalam jangkauan dan tempo konflik yang sedang berlangsung.
Eskalasi Serangan Meluas
Serangan Iran kali ini meluas hingga ke Qatar dan Uni Emirat Arab (UEA), negara-negara yang menampung pangkalan militer AS. Menurut laporan, Qatar, yang berperan sebagai mediator, diserang untuk pertama kalinya sejak April. Sementara itu, UEA menyatakan sistem pertahanan udaranya berhasil mencegat rudal dan drone dari Iran, serangan pertama yang menargetkan negara itu sejak awal Mei.
Korps Garda Revolusi Iran mengklaim bertanggung jawab atas serangkaian serangan balasan, yang menurut mereka menargetkan:
- Pusat komando dan hanggar drone di Yordania.
- Situs radar dan sistem peluncur roket AS di Kuwait.
- Platform pendukung dan pengisian bahan bakar kapal induk AS di Oman.
- Pusat perawatan jet dan fasilitas komando di Qatar.
Serangan ini menimbulkan korban dan kerusakan. Qatar melaporkan tiga orang terluka akibat serpihan yang jatuh, sementara Kuwait melaporkan kerusakan dan seorang pekerja terluka di anjungan pengeboran minyak. Serangan juga dilaporkan terjadi di Bahrain, Yordania, dan Oman, yang mendorong kedutaan AS di Oman mengeluarkan peringatan keamanan bagi warganya.
Status Selat Hormuz Dipertanyakan
AdIran mengumumkan bahwa lalu lintas melalui Selat Hormuz saat ini tidak memungkinkan, dengan alasan "pergerakan ilegal pasukan militer Amerika Serikat baru-baru ini di wilayah tersebut." Otoritas Selat Teluk Persia yang baru dibentuk Iran menyatakan izin akan dikeluarkan "segera setelah stabilitas dan ketenangan pulih." Teheran juga mengklaim telah menyerang dua kapal yang berlayar tanpa izin, termasuk kapal kontainer GFS Galaxy di lepas pantai Oman, yang mengakibatkan satu warga negara India hilang.
Sebaliknya, Amerika Serikat menegaskan bahwa Iran tidak mengendalikan selat tersebut dan lalu lintas tetap berjalan. Pusat Informasi Maritim Gabungan pimpinan Angkatan Laut AS mengulangi panduan bahwa rute selatan yang "diperluas" di dekat Oman tetap tersedia untuk lalu lintas dua arah, meskipun ada ancaman keamanan yang parah. Komando Pusat AS melaporkan telah menyerang lebih dari 300 target militer Iran selama tiga malam terakhir untuk "menurunkan kemampuan Iran menyerang pelaut sipil dan kapal komersial."
Konteks dan Dampak Pasar
Kekerasan terbaru ini menimbulkan keraguan serius terhadap masa depan perjanjian sementara AS-Iran yang ditandatangani bulan lalu, yang bertujuan untuk membuka kembali selat tersebut. Konflik yang dimulai sejak 28 Februari telah mengguncang stabilitas kawasan Teluk dan menekan pasokan energi global.
Blokade efektif Iran terhadap Selat Hormuz, yang sebelum perang menangani sekitar seperlima dari pengiriman minyak dan gas alam cair (LNG) dunia, telah mendorong harga energi lebih tinggi dan memicu inflasi global. Kenaikan harga ini menjadi isu sensitif secara politik di AS menjelang pemilihan kongres pada bulan November.