Story
Iran Serang Target Militer AS di Teluk, Gencatan Senjata Gagal dan Risiko Pasokan Minyak Meningkat

Angkatan bersenjata Iran melancarkan serangan terhadap infrastruktur militer Amerika Serikat di negara-negara Teluk pada hari Kamis, mengakhiri gencatan senjata yang telah berlangsung selama tiga minggu dan secara signifikan meningkatkan eskalasi konflik regional. Serangan ini merupakan balasan atas serangan udara AS di provinsi-provinsi pesisir selatan dan timur Iran, yang terjadi saat Iran memakamkan Pemimpin Tertingginya, Ayatollah Ali Khamenei.
Eskalasi Serangan Balasan
Militer Iran, dalam sebuah pernyataan yang dirilis oleh media pemerintah, mengklaim telah menargetkan beberapa aset strategis AS. Target-target tersebut antara lain:
- Sistem pertahanan Patriot AS di Kuwait
- Situs peringatan dini di Qatar
- Depot bahan bakar Angkatan Darat AS di Bahrain
Selain itu, Garda Revolusi Iran menyatakan telah menembakkan 10 rudal balistik ke pangkalan militer Azraq di Yordania, yang digunakan oleh pasukan AS. Kuwait mengonfirmasi pasukannya telah mencegat sebuah rudal jelajah, tiga rudal balistik, dan 10 drone, dengan satu orang terluka akibat pecahan peluru. Yordania juga melaporkan berhasil mencegat delapan rudal tanpa ada kerusakan.
Serangan Iran ini menyusul tindakan militer AS pada hari Rabu, di mana U.S. Central Command menyatakan pasukannya telah menyerang sekitar 90 target militer Iran, termasuk sistem pertahanan udara dan lokasi penyimpanan rudal. Media pemerintah Iran melaporkan serangan AS tersebut menewaskan 14 orang dan melukai 78 lainnya.
Dampak Pasar dan Gejolak di Selat Hormuz
AdEskalasi militer ini secara langsung berdampak pada pasar komoditas. Harga minyak sempat melonjak karena kekhawatiran bahwa pertempuran akan mengganggu pasokan global, meskipun kemudian sedikit menurun pada hari Kamis. Selat Hormuz, yang sebelum perang menangani sekitar satu per lima dari pasokan minyak global, menjadi titik fokus utama.
Garda Revolusi Iran menyatakan bahwa intervensi AS mengganggu pembukaan kembali jalur air strategis tersebut dan menegaskan bahwa Selat Hormuz akan dibuka kembali hanya di bawah pengaturan Iran. Sebaliknya, militer AS mengklaim telah memfasilitasi transit lebih dari 800 kapal komersial dan 380 juta barel minyak mentah sejak awal Mei, dan menyatakan bahwa Iran tidak mengendalikan jalur air tersebut. Ketidakpastian ini menimbulkan risiko signifikan bagi stabilitas pasokan energi global.
Konteks Konflik dan Upaya Diplomatik
Konflik ini meletus setelah Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, terbunuh dalam serangan udara AS-Israel pada 28 Februari. Pemakamannya di Mashhad menarik kerumunan besar, yang menunjukkan sentimen anti-AS yang kuat di negara tersebut.
Meskipun pertempuran kembali memanas, seorang pejabat AS menyatakan bahwa Washington masih berkomitmen untuk menemukan resolusi dan "pembicaraan teknis terus berlanjut". Negara-negara regional seperti Qatar, Turki, dan Oman telah menyerukan de-eskalasi dan kembali ke diplomasi, menyoroti kekhawatiran atas potensi konflik yang lebih luas yang dapat mengguncang seluruh kawasan Timur Tengah.