Story
Bursa Saham Teluk Jatuh di Tengah Eskalasi Serangan Houthi

Mayoritas bursa saham di kawasan Teluk ditutup melemah pada hari Selasa, dengan indeks Arab Saudi mencatat kerugian terbesar. Pelemahan ini dipicu oleh serangan baru dari kelompok Houthi yang meningkatkan kekhawatiran akan eskalasi konflik lebih lanjut dan dampaknya terhadap stabilitas regional.
Rincian Pelemahan Pasar
Sentimen negatif paling terasa di pasar saham Arab Saudi, di mana investor merespons langsung terhadap meningkatnya risiko geopolitik.
- Indeks acuan Arab Saudi (TASI) anjlok 0,9% ke level 10.782, ditekan oleh saham Saudi Arabian Mining Company yang turun 1,3% dan raksasa minyak Saudi Aramco yang terkoreksi 0,6%.
- Indeks utama Dubai (DFMGI) turun 0,8% menjadi 5.927, dengan saham pengembang properti Emaar Properties merosot 2,1%.
- Indeks Qatar (QSI) kehilangan 0,5% dan ditutup di 9.774, terbebani oleh penurunan 0,7% pada saham Qatar National Bank.
Berbeda dengan tren regional, indeks Abu Dhabi (FTFADGI) berhasil naik tipis 0,2%, sementara indeks unggulan Mesir (EGX30) juga menguat 0,2%.
Pemicu Eskalasi Geopolitik
AdKekhawatiran pasar dipicu oleh laporan dari para pejabat Yaman bahwa Houthi menyerang pangkalan udara Khamis Mushait di Arab Saudi selatan menggunakan rudal dan drone. Serangan tersebut dilaporkan menyebabkan kerusakan pada sejumlah fasilitas vital.
Kelompok Houthi menyatakan serangan itu sebagai balasan atas serangan koalisi pimpinan Saudi di Yaman. Eskalasi ini meningkatkan kekhawatiran bahwa konflik dapat menyebar ke seluruh Timur Tengah, yang berpotensi mengancam infrastruktur energi dan pasokan minyak global.
Konteks dan Implikasi Bagi Investor
Peristiwa ini menambah ketidakpastian yang sudah ada di kawasan tersebut. Ketegangan diplomatik meningkat setelah negara-negara Teluk Arab menunda rencana pembicaraan dengan Iran. Selain itu, serangan pada hari Jumat sebelumnya, yang menurut Riyadh dilakukan oleh milisi yang didukung Iran, telah mengganggu jalur pipa Timur-Barat milik kerajaan.
Jalur pipa tersebut merupakan rute ekspor strategis yang memungkinkan minyak mentah untuk menghindari Selat Hormuz. Menurut laporan, lalu lintas pelayaran melalui selat tersebut telah melambat tajam, memperdalam kekhawatiran investor atas potensi gangguan pasokan dan dampak ekonomi dari konflik regional yang lebih luas.