Story
FTSE 100 Melemah Seiring Lonjakan Harga Minyak Akibat Konflik AS-Iran

Summary
Indeks saham acuan Inggris turun karena meningkatnya ketegangan di Timur Tengah mendorong harga minyak mentah Brent ke level tertinggi dalam sebulan, memicu sentimen penghindaran risiko di kalangan investor.
Saham-saham Inggris dibuka lebih rendah pada hari Senin, tertekan oleh sentimen penghindaran risiko (*risk-off*) yang meluas di pasar Eropa. Pemicu utamanya adalah eskalasi konflik antara Amerika Serikat dan Iran yang mendorong harga minyak mentah naik tajam.
Eskalasi Geopolitik Memicu Kenaikan Harga Minyak
Pasar merespons negatif serangkaian serangan udara AS terhadap Iran yang telah berlangsung selama sembilan malam berturut-turut, serta meluasnya aksi balasan Iran di kawasan Teluk. Menurut Investing.com, situasi ini meningkatkan kekhawatiran investor terhadap stabilitas pasokan energi global.
Kenaikan risiko pasokan ini secara langsung berdampak pada harga komoditas:
- Minyak mentah Brent melonjak 2,35% menjadi $90,18 per barel, mencatatkan level tertinggi dalam lebih dari sebulan.
- Minyak mentah WTI naik 2% menjadi $83,40 per barel.
U.S. Central Command (CENTCOM) mengonfirmasi bahwa operasi mereka menargetkan berbagai fasilitas militer Iran untuk mengurangi kemampuan Teheran mengganggu pelayaran komersial di Selat Hormuz, jalur vital bagi pasokan minyak dunia.
Dampak pada Pasar Keuangan
AdIndeks acuan Inggris, FTSE 100, tercatat turun 0,61% pada pukul 07:26 GMT. Pelemahan juga terjadi di bursa Eropa lainnya, dengan indeks DAX Jerman melemah 0,16% dan CAC 40 Prancis turun 0,05%.
Di pasar mata uang, Sterling diperdagangkan sedikit lebih tinggi, naik 0,08% ke level 1,3466 terhadap dolar AS. Sementara itu, harga emas berjangka mengalami sedikit penurunan sebesar 0,24% menjadi $4.009,12 per ons.
Berita Korporasi Inggris
Di tengah gejolak pasar, beberapa emiten di bursa London menjadi sorotan. Ryanair melaporkan penurunan laba kuartal pertama sebesar 34% akibat biaya bahan bakar yang lebih tinggi.
Sementara itu, Segro menolak proposal pengambilalihan senilai £13,5 miliar dari Prologis, dengan alasan penawaran tersebut dinilai terlalu rendah (*undervalued*). Di sisi lain, Big Yellow Group melaporkan kenaikan pendapatan kuartal pertama sebesar 3%, didorong oleh pembukaan gerai baru dan peningkatan okupansi.