Story

Keluarga Korban Hilang di Tibet Tuntut Jawaban dari Tiongkok

ENTHMSVIIDZHZH-TWJAKOHI
Sep 5, 20262 min read
Keluarga Korban Hilang di Tibet Tuntut Jawaban dari Tiongkok

Summary

Keluarga dari ratusan peziarah asing yang hilang pasca-longsor lumpur di Tibet menyuarakan frustrasi atas minimnya informasi dari otoritas Tiongkok, 10 hari setelah bencana.

Text size
Background

Keluarga dari para peziarah asing yang hilang di Tibet menuntut jawaban dari pemerintah Tiongkok, menyuarakan rasa frustrasi atas apa yang mereka sebut sebagai minimnya informasi 10 hari setelah bencana longsor lumpur dahsyat di perbatasan Tibet-Nepal. Sebanyak 261 warga negara asing masih belum ditemukan di wilayah Tibet.

Minimnya Informasi dari Beijing

Bencana longsor lumpur yang terjadi pekan lalu telah menewaskan lebih dari 1.300 orang dan menyebabkan lebih dari 5.600 orang hilang di kedua sisi perbatasan. Kantor berita pemerintah Xinhua melaporkan pada hari Jumat bahwa di Tibet saja, setidaknya 31 orang dipastikan tewas dan 531 orang hilang.

Namun, beberapa keluarga korban menuduh adanya pemadaman informasi dari pihak Tiongkok, yang memperburuk penderitaan mereka. "Tidak ada informasi dari pihak Tiongkok," kata Tarun Choudhary, saudara dari Priyanka Choudhary, seorang warga negara Finlandia kelahiran India yang hilang. "Kami tidak bisa pergi ke Tiongkok dan berbicara dengan siapa pun... Tidak ada pembaruan dari Tiongkok tentang apa yang terjadi di Lokasi Nol."

Sentimen serupa diungkapkan oleh Naresh Goyal, saudara dari Neetu Goyal Tiwari, seorang warga negara Inggris berusia 51 tahun. "Kami tidak mendapatkan apa pun dari Tiongkok, apakah saudara perempuan saya selamat, hidup, atau meninggal," katanya. Menurut Goyal, polisi Inggris telah mengambil sampel DNA dari putri saudarinya untuk diserahkan kepada otoritas Tiongkok.

Sample IUX Markets – In-articleAd

Respons Tiongkok dan Kontras dengan Nepal

Kementerian Luar Negeri Tiongkok belum memberikan tanggapan segera atas permintaan komentar mengenai tuduhan tersebut. Namun, sebelumnya kementerian menyatakan bahwa rilis informasi mengenai banjir telah dilakukan secara "transparan dan tepat waktu" dan telah mengadakan pengarahan untuk kedutaan dari 23 negara.

Beijing juga menyatakan kesiapannya untuk bekerja sama dengan negara lain dalam mengidentifikasi korban tewas dan telah mengirim tim ahli identifikasi DNA ke Nepal. Namun, para diplomat yang menghadiri pengarahan tersebut—yang berbicara secara anonim—mengatakan bahwa Beijing tidak membagikan rincian tentang bagaimana proses identifikasi DNA akan dilakukan di pihak mereka.

Sikap ini sangat kontras dengan Nepal, di mana pihak berwenang secara teratur membagikan informasi tentang korban hilang dan tewas di media sosial, dan upaya pencarian disertai dengan pengujian DNA yang aktif. Para diplomat juga mencatat bahwa Tiongkok belum menawarkan rekaman video dari pos perbatasannya, yang dapat membantu proses identifikasi.

Back to latest news

LATEST