Story

Laba TSMC Meroket, Namun Gagal Angkat Saham Chip di Tengah Sinyal Inflasi yang Bercampur

ENTHMSVIIDZHZH-TWJAKOHI
Jul 16, 20262 min read
Laba TSMC Meroket, Namun Gagal Angkat Saham Chip di Tengah Sinyal Inflasi yang Bercampur

Summary

Laba kuartalan TSMC yang melampaui ekspektasi gagal meredakan kekhawatiran di sektor semikonduktor, sementara investor menimbang data inflasi AS yang lebih rendah terhadap kenaikan harga minyak akibat risiko geopolitik.

Text size
Background

Kinerja laba yang kuat dari produsen chip Taiwan, TSMC, tidak cukup untuk mengangkat sentimen di sektor semikonduktor yang sedang berada di bawah tekanan. Investor global tetap berhati-hati di tengah sinyal yang beragam mengenai inflasi AS dan meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah.

Kinerja Solid Sektor Chip Tak Mampu Yakinkan Pasar

Taiwan Semiconductor Manufacturing Co. (TSMC), produsen chip kontrak terbesar di dunia, melaporkan lonjakan laba yang impresif sebesar 77% pada kuartal terbarunya, melampaui perkiraan para analis. Namun, berita ini gagal memicu reli, sejalan dengan tren yang terlihat pada hari sebelumnya ketika saham produsen peralatan chip Eropa, ASML, juga turun meskipun melaporkan kinerja yang kuat.

Tekanan pada saham-saham teknologi juga terlihat di Korea Selatan, di mana bank sentral menaikkan suku bunga untuk menstabilkan mata uang won. Selain itu, regulator setempat menindak dana dengan leverage tinggi pada saham tunggal, yang telah berkontribusi pada volatilitas perdagangan. Di AS, saham SpaceX juga mundur kembali ke bawah harga penawaran perdananya.

Inflasi AS dan Kenaikan Harga Minyak

Di pasar AS yang lebih luas, indeks S&P 500 berhasil membukukan kenaikan tipis pada hari Rabu, didukung oleh rotasi sektor. Sentimen di pasar obligasi membaik setelah data Indeks Harga Produsen (PPI) AS untuk bulan Juni menunjukkan angka yang lebih rendah dari perkiraan, mengurangi spekulasi kenaikan suku bunga oleh Federal Reserve bulan ini.

Sample IUX Markets – In-articleAd

Namun, kelegaan dari data inflasi tersebut mungkin hanya bersifat sementara. Meningkatnya ketegangan di Timur Tengah telah mendorong harga minyak dunia kembali ke atas $80 per barel, yang berpotensi memicu kembali tekanan inflasi. Selain itu, inflasi inti PCE, yang merupakan acuan utama The Fed, masih berada di jalur di atas 3% secara tahunan untuk bulan Juni dan Juli.

Prospek Pasar dan Agenda Ekonomi

Investor kini mengalihkan perhatian mereka pada serangkaian data ekonomi penting AS yang akan dirilis, termasuk data penjualan ritel bulan Juni, klaim pengangguran mingguan, dan data pasar perumahan. Dari sisi korporasi, laporan keuangan dari perusahaan seperti Netflix, State Street, dan GE juga akan menjadi sorotan.

Di tempat lain, mata uang pound sterling Inggris menguat, mencapai level tertinggi lebih dari setahun terhadap euro. Penguatan ini terjadi di tengah laporan bahwa Shabana Mahmood dari Partai Buruh menjadi kandidat utama untuk posisi menteri keuangan Inggris yang baru.

Back to latest news

LATEST